Rabu, 23 Desember 2020

My Caesarian Story Part 2

 

Lalu tak lama seorang perawat di atas kepala ku memberikan aku obat di bawah lidah. Aku diminta untuk mengunyah obat itu. Obat yang tak memiliki rasa, aku seperti sedang makan kapur barus saat mengunyah obat itu. Aku hanya menurut. Aku tahu fungsi obat yang biasa diberikan di bawah lidah ini, yah aku menurut saja tentang prosesnya, pasti untuk kebaikan pasien juga.

          Lalu tindakan mungkin selesai, karena semua tertutup tirai. Lalu aku dibersihkan. Lalu aku mulai merasakan mengigil hebat. Menggigil yang sangat kencang tak bisa berhenti. Tangan kanan ku tak bisa diam bergerak. Aku dipasangi infus baru di tangan kanan. Untuk pasang  line infus baru. Aku sangat mengigil, dingin sekali… lalu tiba-tiba aku mual hebat..tanpa bisa ku tahan… aku muntah! Aku mengarahkan wajahku ke kanan. Aku muntah cairan pahit karena aku puasa sejak jam 1 pagi tadi. Aku muntah cukup banyak air-air kosong, perawat dengan sigap menadah muntahku. Aku mual lagi dan lagi… diperjalanan pun aku merasa ingin muntah. Aku mual banget lalu aku muntah-muntah. Aku sedang dalam pengaruh obat mungkin. Jadi aku lemas sekali bahkan kepala aku tak bisa mengangkat. Namun kondisi ku sadar ketika ditanya berbagai hal dengan perawat.

          Aku merasa haus yang amat sangat. Saat itu aku tahu bahwa aku dipindah-pindahkan ke tempat tidur lain dengan alat. Ditarik sana-sini. Namun aku hanya pasrah saja. Aku kehausan. Aku melihat bahwa darah telah menggantung. Tanda bahwa aku sedang di transfusi darah lagi. Infus cairan penuh juga sedang masuk di tangan kiri ku. Aku dibebat dengan banyak selimut. Aku dipasangi pembalut ibu melahirkan. Double lalu dipasangi jarik dibentuk seperti popok. Aku hanya pasrah apapun yang dilakukan petugas perawat saat itu..

dok.pribadi. hari ke 2 pasca operasi. harus bisa duduk, kalo tidak ga akan ketemu bayi dan menyusui. karena bayi tidak boleh ke ruang perawatan ibu saat pandemi seperti ini

          Aku kehausan, lalu ada perawat datang menghampiri. Dan memberi aku minum. “Tapi saya belum buang angin sus..”. “Engga papa kok mba, sekarang boleh minum tanpa nunggu buang angin..” lalu setelah minum air beberapa teguk. Aku kembali tertidur. Lelap. Aku ngantuk banget. Lalu aku tidur.. saat itu pukul 2 siang. Aku tidur cukup lama. Jam 4 sore aku terbangun. Kaki mulai bisa digerakkan pelan-pelan. Kata perawatnya mulai coba digerakkin kakinya bu... aku mulai menggerakkan kaki dan menekuknya. Alhamdulillah sudah mulai terasa dan bisa di tekuk. Namun rasa perih dan nyeri di perut bagian bawahku memang terasa sangat. Nyeriii. Aku tidak bisa gerakkan badanku. Hanya bisa berbaring lurus saja dan terlentang. Pukul 04 sore itu aku dibawa kembali ke ruang perawatan. Sebelumnya aku akan diganti pembalut dulu. Kemudian aku dibawa menggunakan tempat tidur dari ruang recovery room ke ruang rawat inap biasa. Dijalan aku masih lemas. Mata ku masih terpejam. Dan aku sampai ke ruanganku. Ruangan yang saat itu aku merasa sangat panas.  Belum lagi ternyata ada pembangunan oleh tukang bangunan yang cukup buat bising. Saat itu aku merasa lapar sekali.

          Ingin makan, lalu aku diberikan bubur sumsum dan gula merah saja. Cukuplah, Alhamdulillah saat itu aku langsung tersadar. Dan seketika tentu aku bertanya perihal anak ku. Anak yang baru aku lahirkan. Aku mau lihat fotonya. Lihat bagaimana kondisinya. MasyaAllah segala puji dan syukur dihaturkan hanya pada Allah Ta’ala. Anakku lahir sehat selamat. Badannya full terisi. Berat badannya 3.6kg dan panjangnya 49 cm. Tubuhnya tampak montok di incubator itu menggunakan pampers saja, badannya putih mulus, dan matanya terpejam. Ada pose mulutnya sedang digerak-gerakkan seperti dia haus. Namun aku tahu bahwa bayi baru lahir jika perutnya tidak diisi selama 24 jam tidak masalah karena lambungnya masih sekecil butiran jagung. 

dok. pribadi. pumping ASI untuk Dinda. Asi perdana penuh colostrum. untuk kekebalan tubuh bayi baru lahir. walau sedikit, di syukuri.

          Aku masih harus beristirahat. Tubuhku masih sulit digerakkan karena nyeri. Ibuku yang menungguiku terpaksa tidur di kursi ya karena badanku masih kaku dan ga bisa digerakkan. Terasa nyeri yang amat sangat jika dipaksa gerakkan. Sedangkan selang kencing kateter masih terpasang padaku. Aku belum siap jika harus bulak balik ke kamar mandi dengan kondisi begini huhu.

          Esoknya selang kencing harus dilepas. Takut infeksi saluran kemih katanya. Terus aku harus mobilisasi. Tidak boleh kaku saja di tempat tidur. Aku minta agar perawat membantu aku membersihkan tubuh, terutama dari darah pasca bersalin ini. Ternyata di RS ini hal itu tidak dilakukan oleh perawat, melainkan oleh care giver. Ya beda lagi, waaah ternyataaa membayangkan kalau di RS ku semua perawat harus memiliki skill bisa memandikan pasien di tempat tidur. Baik perawat baru maupun perawat lama. Namun disini enak banget care giver yang kerjakan. Hmmm. Tapi yaa tentu beda jika pekarya atau care giver yang melakukan tindakan pembersihan.

          Mana pekarya itu kan mau ganti sepray tempat tidur. Eh dia ga bisa melakukan jika pasien ada di tempat tidur, aku harus duduk di kursi dulu doong. Dan aku kesakitan banget. Harus dipaksakan bisa duduk kalo ga sepray tempat tidur ku ga bisa diganti oleh petugas. Fiuh. Aku menahan sakit yang amat sangat. Mau nangis. Tapi harus di kuat-kuati. Akhirnya aku bisa walau tahan nyeri.
 

dok. pribadi. inilah buah hati pertama ku, i love her so much

          Bagaimana dengan bayiku? Ya hari ini belum ketemu bayi ku sama sekali. Jadi aku mau bertemu bayi pukul 10 ini. Karena bayiku sama sekali belum di beri apapun. Karena untuk ASI saja yang diberikan pada bayi yang baru lahir, Aku dicarikan kursi roda oleh ibu Asma, ia adalah sepupu mama ku yang bekerja sebagai perawat di poli anak. Aku naik kursi roda dengan di dorong bersama saudaraku Ibu Asma. Aku sampai di ruang bayi baru lahir di lantai 6.

          Hanya boleh aku yang masuk ruang menyusui. Lalu anakku diberikan pada ku untuk disusui. Awalnya terasa waswas. Apakah asi ku ada? Kata perawatnya “Gausah di pikirin mam. Yang penting di susuin dulu anaknya ya. Nanti juga keluar sendiri ASI nya..”

dok. pribadi. moment saat aku perkenalkan anakku ke para sahabatku. mereka excited sekali melihat wajah ponakannya :D

          MasyaAllah. Tatapan pertama ku melihat anakku secara langsung, menggendongnya hilanglah semua perih diperut ini. Tubuh bayi ku bisa ku gendong dengan mantap dan melupakan nyeri yang ada di perut bagian bawahku. Anakku tampak tenang. Wajahnya teduh, wajahnya memerah semu. Bibirnya tipis dan bewarna pink. Melihat wajahnya. Ia melihat wajahku walau dengan masker. Tanpa henti dia menatapku. Ya.. aku ibumu, Nak. MasyaAllah.. akhirnya kita berjumpa ya sayang…

          Alhamdulillah anakku sangat pandai dalam menyusui. Tumbuh sehat baik dan pandai ya sayangku.. Adinda Namira Putri Shaqeena, yang maknanya "Si Kesayangan, anak dari Mubin dan Rinta Putri yang rajin, ulet, pandai dan bahagia"

 

dok. pribadi. saat Adinda sudah boleh pulang. bersama ayah tercintaa :)

08 Desember 2020

Pukul 16.59

Adinda masih di RS, karena harus di observasi dulu.

Doakan ia segera pulang dengan sehat yaa pembaca.

.

Tanggal 9 Desember 2020 sore hari, tepat saat libur karena pilkada. Adinda diperbolehkan pulang oleh dokter anak karena dari hasil pemeriksaan Dinda tidak ada kelainan di kakinya. tadinya kaki Dinda ada bengkak, khawatir ada sumbatan pembuluh darah (DVT). Sudah di scanning di RSCM Kencana, Alhamdulillah tidak ada kelainan. 

My Caesarian Story (PART I)

 

06 Desember 2020

 

          Perjalanan baru di mulai. Tanggal 2 Desember 2020 adalah hari yang mendebarkan buatku, rasa campur aduk melingkupi jelang hari itu. Rasa deg-degan, takut, penasaran, stress, dan excited karena akan bertemu anak yang selama ini setia berada di rahimku. Fase demi fase kehamilan yang sudah ku jalani.

          Sebelumnya berbagai persiapan di lakukan. Mulai dari konsul spesialis. Konsul spesialis kandungan, konsul penyakit dalam, hingga konsul spesialis anestesi. Aku dijadwalkan untuk datang H-1 sebelum di rawat. Yaitu pada tanggal 1 Desember 2020. Karena aku harus menjalani proses transfusi darah dulu 1 kantung. Untuk persiapan operasi. Melakukan pendaftaran dan administrasi yang cukup melelahkan. Saat itu kehamilanku berusia 38 minggu 3 hari. Sedangkan saat aku di Caesar kehamilanku berusia 38 minggu 4 hari.

          Mulailah aku masuk ruang rawat inap. Sampai ruang rawat inap aku mandi dulu, mengganti baju. Tak lama perawat datang memasang infus di tangan kiri ku. Lalu malamnya perawat datang, mengajakku keruangan kebidanan untuk dilakukan CTG bayi. Perutku di kerat dan di tengahnya ada alat, sebelumnya perutku sudah di beri gel. Pemeriksaan cukup lama. Aku disuruh memencet tombol jika bayi ada gerakkan saat pemeriksaan itu. Sebagian perawat sudah mengetahui kalau aku adalah sejawatnya juga, perawat di salah satu rumah sakit juga.

          Setelah itu menurut bidan, dari hasil CTG janinku beberapa kali melakukan kontraksi. Lalu aku dilakukan pemeriksaan dalam. WHAT??? VT? Vagina Touch! Periksa dalam!! Ini yang dilakukan pada semua ibu yang akan melahirkan normal. Dulu aku sering melihat ibu yang akan melahirkan dilakukan hal ini, namun kali ini aku dong yang akan merasakan. Dan  bidan memakai sarung tangan. Melakukan Vagina Touch padaku. Rasanya? “Duuuh sakitnyaaaaa. Jari si bidan terasa nyakitin dan tajam banget pas masuk ke dalam. Dalam banget  rasanya!! Masih terbayang nyerinya. Dan ternyata aku sudah bukaan 1 dong. Lalu bidan memberikan aku obat anti nyeri via infus dan pil supossitoria (anti nyeri diberikan dari dubur)

H-1 persiapan operasi transfusi kolf 1. dokumentasi pribadi

          Setelah selesai pemeriksaan, aku kembali ke kamar. Jelang malam, aku dilakukan transfusi darah. Darah sebanyak 1 kantong, isi 197 cc yang akan masuk ke tubuhku. Ya.. untuk persiapan operasi, karena kadar Hemoglobinku rendah. Makin rendah karena sedang hamil ini. Ah hatiku berdebar menanti hari esok.. hmm

.

ESOK

2 Desember 2020

          Hari ini aku direncanakan operasi pada pukul 9 pagi. Paginya, aku diberikan antibiotic premedikasi dulu, berupa Ceftriaxone 1 gram. Via infus. Ah, tadinya mau di bolus langsung di pembuluh. Untungnya hanya drip saja. Setelah itu pukul setengah 10 pagi, barulah aku dibawa ke ruang persiapan operasi. Gimana rasanya? masyaAllah berdebar!! Sepanjang jalan ga henti aku beristighfar, minta tolong sama Allah sekaligus minta ampun. Ampun ya Allah. Aku takut ada apa-apa, aku juga merasa bahagia jika nanti hitungan jam bisa bertemu sama bayi, anugerah pernikahan dari Allah bagi kami.

          Baik, jadi aku di beri pakaian ganti. Pakaian khusus untuk ruangan operasi. Tidak ada penutup tangan, hanya penutup badan saja, tanpa ada lengan bajunya. Aku ikuti saja prosedurnya. Celana juga tidak dipakai lagi, hanya pakai selimut saja. Aku masuk ke ruangan yang dingin itu, selama perjalanan aku berkomunikasi pada perawat-perawat disana karena memang sesama medis aku cukup banyak mengetahui tentang prosedural operasi.

          Namun untuk operasi Caesar, aku hanya mengingat saat aku mahasiswa untuk proseduran sc ini. Jadi aku dipersiapakan. Pemasangan Cathether urine dilakukan setelah setengah bagian tubuhku dibius. Aku bersyukur karena tidak merasakan sakitnya di pasangi kateter. Dokter anastesi datang lebih awal. dr. Widjanarko namanya, beliau mengobrol denganku menanyakan beberapa dokter di rs tempatku bekerja yang juga aku kenal.

          Aku diminta untuk duduk di atas meja operasi itu, tentu dengan penerangan yang cukup terang dan suhu yang sangat dingin serba hijau. Aku disuruh duduk bersila memeluk bantal di dada. Punggungku diminta sedikit membungkuk. Lalu aku kaget..
          Tuts!  “Aw!” secara reflek aku menegakkan punggungku karena kaget. Lalu kata perawatnya, jangan tegak dulu bu. “Iya, iya, aku kaget tadi..” karena dokter mungkin lupa beri aba-aba.  Lalu tak lama… kedua kaki ku semutan… lalu melemah. Lemas. Dan aku diminta untuk langsung merebahkan badan biar reaksi biusnya merata. Aku meluruskan badan. Dan seketika aku lemah tak berdaya, dari pertengahan badan sampai kaki aku tidak merasakan apa-apa lagi. Hanya jika di sentuh terasa getaran saja seperti orang kesemutan, namun lama-lama tak terasa apapun. Tirai hijau di depan wajahku di tutup. Ada besi seperti untuk jendela menutupi. Dokter Nining, Sp.Og datang.. dan menghampiri aku. Ia bersama asistennya melakukan tindakan aku lupa nama dokternya siapa. Dokter Nining menyapa ku… “Bu Rinta ya? Kita mulai ya…”, “iya dok..” jawabku.

          Lalu entahlah apa yang mereka lakukan. Selama operasi aku sadar dan hanya melihat-lihat sekeliling. Melihat peralatan dan bagian-bagian di ruangan, sesekali aku mendengar percakanan kedua dokter saat melakukan koordinasi tindakan yang mereka lakukan, namun agak kurang jelas apa yang dibicarakan.

          Hampir 20 menit berlalu.. lalu agak terasa gerakan sedikit dalam perutku. Pertanda bayi sedang di keluarkan.  Perutku terasa bergetar.. “Lalu terdengar asisten dokter Nining bilang, “Vakum.. vakum..” lalu mungkin vakum di letakkan di kepala bayi ku. Kemudian Qadarallah alat vakum tidak berfungsi, sempat salah satu dokter itu menggerutu karena vakum tak berfungsi. Lalu perawat yang ada di kiri ku membantu mendorong perutku untuk bantu bayi keluar.

          Akhirnya bayi keluar. Di bawa lah bayi itu ke sisi tindakan. Anakkku di lakukan suction cairan di mulutnya, aku mendengar alat itu bekerja.  Tak lama terdengar sayup suara tangisan bayi, kemudian bayiku dibersihkan kembali cairan dimulutnya, lalu ia menangis dengan sangat kencang. Menangis khas bayi yang sehat. Dalam hatiku sangat bersyukur , “MasyaAllah, Alhamdulillah Alhamdulillah”.

dok. pribadi. aku dan suami beberapa hari jelang operasi caesar

          Mungkin saat prosesnya dokter kandungan ku sedang bergelut dengan pengeluaran plasenta yang ada di rahimku. Mungkin juga sedang membersihkan sesuatu yang ada di rahimku. Lalu tak lama seorang perawat di atas kepala ku memberikan aku obat di bawah lidah. Aku diminta untuk mengunyah obat itu. Obat yang tak memiliki rasa, aku seperti sedang makan kapur barus saat mengunyah obat itu. Aku hanya menurut. Aku tahu fungsi obat yang biasa diberikan di bawah lidah ini, yah aku menurut saja tentang prosesnya, pasti untuk kebaikan pasien juga.

Lalu......

Minggu, 23 Juni 2019

DUA PULUH ENAM, AKU TIDAK BERPALING -19 JUNI 2019



 
dok. pribadi. saat berpetualang di sebuah hutan di pulau. mencari air terjun?
            Merupakan tanggal yang teramat bagus dan baik di tahun ini. Ya, 19 Juni 2019. Beberapa rekanku memilih menikah di tanggal ini. Tanggal ini pula merupakan tanggal lahir ku. Ya tepat 26 tahun usia ku. Usia yang terbilang sudah tidak remaja apalagi anak-anak. Usia yang terbilang dewasa dan cukup matang. Usia ini pula, antusias ku terhadap pertambahan usia tidak se ‘wow’ dulu. Biasa saja. Bahkan teman-temanku sekalipun. Bisa dihitung dengan jari siapa saja yang mengucapkan selamat ulangtahun. Namun aku tak peduli. Ini hanya perkara bertambahnya usia. Apa yang harus di banggakan? Lebih baik di renungkan tentang apa dan berapa banyak yang sudah terbuang untuk melakukan hal yang sia-sia dan ga berfaedah. Ya Allah. Ampun.
            Aku tak berharap ada euphoria apapun tentang taggal kelahiran ku kali ini. Karena memang aku berada di suasana baru. Lingkungan baru yang membuatku masih tabu untuk berharap yang macam-macam. Tak ada kue ulang tahun. Walau ada yang berniat melakukan dan membuat namun dengan alasan ini itu jadi ga jadi, haha aku ga peduli kalau sekedar kata. Aku lebih suka menolaknya jika ada yang bilang seperti itu. Karena untuk apa dikatakan jika memang ga jadi? Berharap aku meminta-minta untuk dikirimkan kue? Engga. Im not too like sugar :D
            Hanya aku tetap berdoa. Doa adalah sebaik-baiknya perilaku yang layak kita lakukan di

Kamis, 06 Juni 2019

LEBARAN PERAWAT




                Kumandang Takbir bergema. Malam itu malam idul Fitri.. terdengar anak-anak keliling menggemakan takbir. Dengan bedug khasnya. Aku keluar kamar Kos dengan pakaian putih-putih. Pakai jaket dan ransel, kemudian jalan kaki menuju Rumah Sakit. Suasana orang berjualan sudah tidak ada, mungkin semua orang sudah Mudik ke kampung halaman masing-masing. Di persimpangan jalan terdengar sayup takbir dari masjid dan anak muda berkeliling dengan takbirnya. Di atas sana sekilas terlihat kembang api menghiasi langit Jakarta.
 
dok. pribadi. Selamat berlebaran. mohon maaf lahir dan bathin. sehat selalu yaaa :)
                Melewati rumah-rumah warga di sudut gang sempit ibukota, tercium aroma opor dari ruangan yang terbuka. Aku mencium aroma opor sambil tersenyum.. di rumah yang satu lagi terlihat ibu-ibu sedang mengisi anyam ketupat dengan beras seperempat genggam. Sambil tersenyum aku berucap dalam hati, “Lebaran tahun ini di rantau lagi…” Memasuki gedung Rumah Sakit tempatku bekerja. Suasana biasa saja. Ruangan sejuk tanpa bau obat. Malam itu terlihat agak senggang. Sebagian petugas libur, namun petugas lain seperti security, petugas kebersihan, perawat jaga, dokter jaga standby di Rumah sakit untuk berjaga dan melayani pasien sakit.
                Naik ke lift rumah sakit menuju lantai 7A,  ruangan tempatku bekerja.

Senin, 18 Maret 2019

Pengalaman Daftar CPNS 2018 Part I



Senin, 22 Oktober 2018

`           Alhamdulillah ini masih jam 20.20 malam Waktu Indonesia Bagian Barat. Aku ingin sedikit cerita mengenai persiapan test CPNS yang ke- III ku ini. Ya ketiga. Pertama kali saat program C.A.T test berbasis computer itu pertama kali diadakan, yakni tahun 2014 untuk penerimaan perawat provinsi Lampung. Saat itu test nya di laboratorium computer Universitas Lampung (UNILA) kendala nilai tidak sesuai passing grade pada TIU (Test Intelegensia Umum) dan TWK (Test Wawasan Kebangsaan). Kemudian yang kedua saat test di Jakarta yakni tahun 2017 kemarin. Test di PPSDM Hang Jebat Jakarta. Saat itu aku mendaftar sebagai perawat di RS Jiwa dan Umum Marzoeki Mahdi Bogor. Dengan system C.A.T yang sama dengan kendala yang sama yakni tidak lolos di TWK (Test Wawasan Kebangsaan) saja. Alhamdulillah. Walau tak lolos aku masih mantap mengucap Alhamdulillah, setidaknya ada perbaikan dari tahun mencoba sebelumnya. Kali ini TIU ku dapat nilai 85 sedangkan TKP dapat nilai 156, TWK yang tak lulus ini mendapat score 60. Saat itu sangat menantang sekali, tidak hanya proses testnya namun perjalanan meuju tempat test ku di Jakarta itu.
dok. pribadi

            Bayangkan saat itu posisi ku masih seorang Nusantara Sehat team yang bertugas di perbatasan Indonesia. Di Ujung Kalimantan Utara sana. Mendapatkan test hari pertama dan jadwal paling pagi. Pengumuman dan jarak test nya juga sangat dekat, terlalu dekat malah. Awalnya sempat galau sekali.

Senin, 18 Februari 2019

Lele Love Story


Bunga Mayang, 14 Oktober 2018
 
Finally mereka menikah. haha. ini foto bersama squad Sedekah Rombongan
            Hari ini adalah hari yang berbahagia bagi teman ku Luthfiatul Amalia Rofiqoh alias Lele. Waah mungkin pembaca pada nanya, dari sekian banyak teman-teman aku yang nikah.. kok Cuma Lele aja yang lolos kriteria untuk bisa di ceritakan kisahnya di blog ini? Ya, mungkin beda ya, karena dalam prosesnya mereka walaupun ga banyak, yaa sedikit banyak deh aku turut andil menjadi perantara mereka dalam komunikasi. Alias perkenalan mereka.
            Ohya sebelum aku memulai cerita, izinkan aku mengucapkan doa dulu ni untuk pasangan yang hari ini sudah melengkapi separuh Dien islamnya, sudah menjalankan Sunnah Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. “Barakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair. Selamat menempuh hidup baru untuk Safri Yulian dan Luthfiatul Amalia Rofiqoh semoga jadi keluarga Sakinnah Mawaddah Warrahmah till Jannah. Aamiin Ya Robbal Alamin.
            Untuk pertama kali pasangan ini berkenalan sebelumnya aku kurang tau ya, entah sudah kenal saat sama-sama kuliah di Poltekkes Tanjung Karang, walau dengan jurusan yang berbeda. Atau tepatnya saat sama-sama aktif di organisasi Sedekah Rombongan Lampung. Intinya sih gak aku pungkiri fakta bahwa di Sedekah Rombongan banyak juga sesama anggotanya menikah. Atau menemukan jodoh saat bersama-sama menjalankan kegiatan social atau cinlok dan sebagainya. Namun jika orangnya paham, mungkin dia tidak akan melakukan pendekatan dengan cara yang tidak dianjurkan agama ya. 
dok. pribadi. akad nya Lele dan Safri. wuuh. finally haha

            Oke, Luthfiatul Amalia alias Lele sering ku memanggilnya. Sebelumnya Lele ini adalah teman yang sangat dekat bermula saat kami masih di asrama keperawatan Poltekkes. Dekat banget. Walau kami ga sekelas ya kuliahnya.  Sedangkan Si Calonnya ini juga Mahasiswa Poktekkes dengan jurusan perawat gigi. Jadi awalnya kedua orang ini cukup sering di ‘jodoh-jodohkan’ di grup organisasi SR. Namun lambat laun mungkin rasa penasaran dan rasa menyadari pada diri sendiri muncul. Jadi si Lele belakangan memang sering cerita ke aku tentang banyak hal. Termasuk tentang seseorang lelaki yang tiba-tiba chat.
            Sadar itu ga baik, kalau chat langsung begitu. Akhirnya aku yang menawarkan diri untuk jadi

Senin, 14 Januari 2019

Mengawali Tulisan Awal Tahun 2019

Senin, 14 Januari 2019

Agak telat jika aku baru saja mengisi Blog lagi di awal tahun 2019 ini. Yah daripada enggak sama sekali kan.. Well domain ini jug sudah di bayar dan di perpanjang lagi untuk tahun ini hehe, Maaf sekali jika tidak banyak mengisi di tahun 2018 kemarin... mengecewakan. Sungguh bukann mau ku. tapi tetap juga salahku. Karena sesungguhnya aku tetap rutin menulis walau tidak terpost-kan.


Cukup banyak juga yang bertanya kenapa blog ku jarang banget update tulisan lagi. Padahal memang iya, Sebenarnya pabrik tulisanku sudah banyak. File menumpuk namun tak terposting. Tiap ada moment ada saja yang ku tulis, walau ga sesering saat aku masih sebagai mahasiswa keperawatan. Terkadang kendala memang datang, saat ada moment tepat dan aku sudah meulis sebuah tulisan... jaringan di Desa tempat ku bertugas ya tidak kuat, WIFI yang roboh lah, atau jaringan memang sedang eror parah, sehingga aku pilih untuk menunda memposting sebuah tulisan. Giliran diri ini sudah berada di Kota yang notabene sinyal a,an lancar. Malah aku pilih untuk tunda posting, dengan alasan... Ah tentang ini sudah gak hangat lagi. Udah beralu jauuuh kejadiannya. Maafkan aku ya. Banyak alasan. Aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya bagi para pembaca. karena gak heran masih ramainya yang DM via Instagram tanya sesuatu yang informasinya bersumber dari blog pribadi ku ini :)

Sabtu, 29 September 2018

Liburan Ceria di Palembang Bird Park


 
dok. pribadi. Senyum gagah nya si Binarrr, ponakankuuu
            Salah satu tempat yang baik dan nyaman bagi masyarakat Palembang maupun wisatawan local dan luar negeri salah satunya ialah Palembang Bird Park. Salah satu tempat wisata piihan untuk merefreshkan pikiran dengan bertemu para hewan-hewan lucu nan imut. Palembang Bird Park beralamat di jalan Gubernur H.A. Bastari, komplek OPI Mall, Jakabaring, Palembang (Sebelah waterfun). Disini ada lumayan banyak aneka ragam hewan yang instagramable untuk kita berfoto dan bercengkrama langsung dengan para hewan disini.
dok. pribadi di dalam taman burung jalak nih

            Masuk Palembang Bird Park kita membayar sebesar 50 ribu/ orang.

Kamis, 27 September 2018

Sampe Sesak Karena Nonton ‘SEARCHING’



 
sumber: Rinta
            Memiliki keluarga kecil yang bahagia, anak yang lucu, proses pertumbuhan dan perkembangan si anak, moment indah, kebersamaan dan keseruan mungkin sangat sayang terlewatkan. Hingga pentingnya harus di dokumentasikan, foto atau di vidiokan. Media pun makin mendukung dengan adanya berbagai aplikasi social media. Dengan cara yang mudah sehingga kita bisa mengupload momen tersebut untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Sambil mendokumentasikan kehidupan pribadi dan keluarga. Semua indah semua menyenangkan. Itulah yang dialami seorang David Kim. Seorang ayah dan suami di keluarga yang berbahagia itu.
            Moment ketika anaknya Margot ulang tahun, momen ketika istri dan anaknya sedang mengajari piano, moment hari Ayah dan moment perkembangan Margot menjadi gadis remaja yang cantik dan terlihat ceria. Hingga suatu ketika terjadi hal yang mengejutkan di balik kebahagiaan keluarga kecil ini. Pam, istri David Kim mengidap penyakit kanker Limphoma. Sehingga harus menjalani berbagai terapi pengobatan. Tentu hal itu tak luput dari dokumentasi video dari seorang Kim. Mereka berolahraga bersama, mulai berdamai dengan cancer Limphoma tersebut. Hidup dengan cancer harus berolahraga, menjalani terapi hingga pengobatan lainnya. Tak heran jika David Kim menyebut istrinya bagai robot yang tak bisa berhenti berlari.

Selasa, 04 September 2018

Idul Adha di Perantauan (lagi)


Tulang Bawang Baru, 22 Agustus 2018
10 Dzulhijah 1439 Hijriah
 
dok. pribadi. Foto bersama keluarga baru di perantauan
            Alhamdulillah bertemu kembali di idul Adha. Hari Raya nya umat muslim setelah Idul Fitri. Kali ini aku lagi-lagi memilih untuk berlebaran di tanah rantau, padahal sudah hampir sebulanan ini ga pulang ke rumah di Bandarlampung. Dengan segala pertimbangan. Yang sebelumnya agak galau antara memilih untuk pulang atau stay di rumah dinas. Akhirnya, aku memilih untuk stay saja dulu di rumah dinas menikmati lebaran di tanah rantau lagi. Alhamdulillah nya lagi kini teman serumah memangga ada yang mudik, hanya dua orang dari anak Nusantara sehat yang laki-lakinya memilih berlebaran di kampung halaman masing-masing. Palembang dan Jogjakarta...
            Namun tetap berasa lengkap karena serumah dinas, aku, Ka Fatma, dan Ka Rina memilih untuk berlebaran di rumah dinas. Yeeey. Pagi hari kami bangun pukul 5 jelang setengah . mulai antri mandi walau awalnya air tidak nyala.. kami menunggu dan pukul 6 pagi air baru nyala. Barulah kami bersiap-siap untuk shoat Ied hari ini. Berangkat ke masjid terdekat bersama Teh Ayit dan Neng, anaknya Teh Ayit. Kami berjalan kaki menuju masjid terdekat. Alhamdulillah sholat berlangsung khusyu, walau jumlah jamaah yang sholat dihari ini lebih sedikit daripada sholat iedul fitri waktu lalu, ntahlah. Yang jelas jamaah lelaki ga full penuh, begitupun jamaah perempuan.. hanya sebatas teras masjid nya saja.. tidak meluber seperti saat idul fitri.
dok. pribadi. setelah sholat ied adha

            Setelah sholat Ied, Alhamdulillah kami tidak langsung pecah makan, hanya minum saja. Karena akami sudah berencana untuk berkeliling silatuhrahmi ke para pegawai puskesmas lainnya. Sudah banyak yang mengundang untuk datang ke rumah para pegawai puskesmas lain. Pertama kami mendatangi rumah dokter Yanti di sebelah rumah kami, karena dia juga akan pergi. Jadi kami langsung ke rumah dokter Yanti bersama Teteh, Babe Horas, dan Mbak Las tentu aku dan dua teman NS ku di rumah. Menyerbu rumah Doter Yanti kami di sajikan pempek, segubal (makanan khas lampung) yang dimakan bersama tape putih yang di bungkus dengan daun jambu. Kemudian kami menikmati camilan yang tersedia di rumahnya. 
dok. pribadi. di rumah babe Bambang

            Jeda sebentar.. ohya Alhamdulillahnya hari ini aku libur jaga UGD nya jadi bisa full keliling rumah para petugas puskesmas yang lainnya.  Jeda.. kami menunggu yang lain datang karena kami mau beramai-ramai menuju rumah ke rumah. Menunggu kak Sari dan Kak Mala beserta rombongan. Setelah semuanya berkumpul.. kami menghubungi Babe Horas untuk membawa mobil menuju rumah ke rumah. Rumah pertama yang kami datangi adalah rumahnya Babe Bambang yang sudah jauh hari mengajak ke rumahnya untuk menikmati segubal, dan sajian nikmat yang sudah di buat oleh istrinya. Kebetulan kami belum makan berat alias belum makan ketupat atau nasi dan semacamnya jadi kebetulan perut memang masih kosong. Sehingga.. ketika di sajikan menu lebaran kami serombongan langsung serbu menu yang ada... ketupat atau nasi..  beserta menu khas lebaran banget. Karena Babe Bambang orang Lampung asli banget, makanaya idul adha nya seperti idul fitri jadi masak besar juga. Ada menu rendang ayam kampung yang pas banget rasanya, dagingnya pun lembut banget, kemudian ada sambal annas yang disukai semua orang bahkan anak-anak, lalu ada ayam dengan menu lain, sebelah sana lagi ada menu sop ayam berserta kuahnya yang gurih. Di santap bersama, dan itu nikmat. Bahkan Babe Horas sampai nambah dua kali. Ternyata istrinya Babe Bambang sangat jago masak, dan buat kue. Jadilah semua suka dengan masakan yang beliau buat. Lalu kami berfoto bersama sebelum akhirnya berpamitan dan menuju rumah selanjutnya..
            Rumah selanjutnya sesuai rute kami akan menuju kediaman dokter Dyah. Kami melewati perkebunan tebu yang memang sudah agak kering dan di selimuti oleh tanah merah akibat tanah yang menghempas, dan mengering. Seharusnya kami bisa melewati gerbang perusahaan gula, namun di tutup tidak muat untuk di lalui mobil. Akhirnya kami memutar.. sekalian jalan-jalan daah. Si Gina anaknya Kak Mala yang super lincah dan aktif banget. Sepanjang perjalanan si Gina tahan banget untuk cerita macem-macem.. sampe dia pernah nyanyi tentang lagu putus cinta yang buat kami semua nengok ke dia. Pas diliatin dia malah terkikik maluuuu sambil ketawa. Hehe.
dok. pribadi. foto bersama di rumah dokter Dyah

            Sampai di rumah dokter Dyah yang berada di komplek perumahan PTPN 7 Gula tebu Bunga Mayang, kami masuk dan semua orang sudah pada start untuk menikmati pempek di rumah dokter Dyah. Kami menikmati pempek dokter Dyah yang asli dari Palembang (karena kami yang bawain itu pempek dari Palembang) hehe. Kemudian kami mengobrol kecil, setelah agak kenyang kami kembali pamit menuju rumah selanjutnya. Rumah Bu Dewi. Duh sebenernya kami sudah merasa full banget perutnya, tapi ya kudu perjalanan lagi nih silatuhrahminya.. mungkin kudu di atur nih penyimpanan makanan di Lambung ini hehe. Sampai di rumah Bu Dewi kami langsung di hidangkan berbagai kue, kemduian jelang pukul 12 siang kami dipersilahkan untuk menikmati sajian lebarannya. Yang spesial ada rendang jengkol yang buat sebagian orang jadi pingin makan jengkol. Alhamdulillah tadi ga kegoda. Ambil nasi seperempat sendok, lalu ambil menu telor bulat di sambel sama kuah sayur lodeh. Terus makan deh, ga kegoda dulu sama jengkol wkwk.
dok. pribadi. kebersamaan di rumah bu Dewi sebelum pulang

dok. pribadi. nah ini lagi nunggu makan siang (lagi) wkwk

            Perut kami terasa sangat full. Sebelum pamit pulang kami berfoto bersama di teras dumah bu Dewi. Alhamdulillah sudah cukup untuk hari ini mendatangi rumah tiap rumah. Perut kami sudah kenyang, hati senang. Menambah keakraban dan kesyahduan di Idul Qurban kali ini. Alhamdulillah. Ternyata berlebaran di Penempatan ini masih asik untuk dilakoni, tapi jangan lupa untuk ingat keluarga di kampung halaman yaa. Ada waktunya untuk berlebaran di Rumah atau di penempatan, sesuai kebutuhan dan keinginan. Memupuk Rindu itu penting, apalagi mupuk rindu sama keluarg, nikmaat.

            Rinta Wulandari
            Rumah Dinas Puskesmas Tulang Bawang Baru
23.27 WIB
            Lampung Utara