Tampilkan postingan dengan label merujuk pasien. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merujuk pasien. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2016

Merujuk Pasien ke RSUD Nunukan III




 
dok.pribadi
            Malam ini aku baru saja sedang memotong daun kangkung dari batangnya, untuk persiapan masak makan malam. Maklum, melam ini adalah jadwalku untuk piket masak. Selagi aku seru memtik, tiba-tiba Kiki bidan dari tim kami menelepon dari UGD Puskesmas. “Rinta di minta dr.Astri merujuk pasien..” tutur Kiki dari kejauhan.
            Segera aku bergegas mengenakan pakaian yang lebih rapi dengan jaket khas Nusantara Sehat. Setelah sampai di UGD, aku melihat pasiennya... oh ini pasien yang tadi pagi.. tadi pagi ibu ini juga datang dengan keluhan kateter yang terpasang tidak mengeluarkan urine nya. Terakhir urine yang keluar sedikit dan bercampur pus (nanah). Si ibu memang sudah di diagnosa kanker Serviks (kanker leher rahim). Diagnosa tersebut dari rumah sakit di Makassar. Si ibu sudah mengalami kanker stadium 3B.. termasuk stadium lanjut yang berbahaya.. rumah sakit menyarankan kemoterapi rutin. Namun pasien menolak, dikarenakan biaya dan tidak ada yang menunggui di RS. Akhirnya si ibu APS alias pulang paksa alias pulang atas permintaan pasien dan keluarga.
            Lalu beberapa minggu kemudian, si ibu kembali mengalami keluhan, yakni tidak bisa buang air kecil ke puskesmas.. akhirnya di puskesmas, si ibu di pasangkan kateter dengan kontrol rutin.. karena rumah ibu dekat dengan Puskesmas. Si ibu diizinkan rawat jalan. Saat itu urine keluar, normal. Walau agak sedikit keruh.. sehari berikutnya.. paginya si ibu datang dengan  keluhan tidak keluar urine nya.. oleh dokter dilakukan spooling kateter. Namun tidak berhasil. Urine tidak juga keluar.
            Akhirnya dokter menyarankan rujuk. Rujuk pasien ke RSUD Nunukan. Dokter Astri melihat tampilan aku, yang seperti akan pergi main. Haha, ia meminta ku untuk berganti pakaian. Karena aku adalah satu-satunya perawat yang akan merujuk,, sedangkan Kak Ina yang akan ikut merujuk pun adalah bidan. Aku dipinjami baju jaga nya dokter Astri. Berupa seragam kuning-kuning.. yang di pakaian itu pada dada kirinya bertuliskan “UGD Puskesmas Sanur”, dan di dada kanan tertulis “dr. Astri”, haha setelah pakai pakaian itu di olokin orang rumah.. “Ciyee dokter Rinta”, hahaha -__- Malam sekitar jam setengah 9 malam kami baru berangkat dari puskesmas. Dari PKM menuju dermaga Bambangan membutuhkan waktu sekitar 40 menit.. perjalanan yang gelap gulita.. kanan kiri masih hutan.. naik turun perbukitan, namun Alhamdulillah jalanan sudah mulus untuk wilayah sebatik.. Oh ya Roi ikut sebagai lelaki yang mengawasi kami merujuk malam ini.. si Adik salah satu tim kami ini, jurusan Analis kesehatan ini girang banget diajak merujuk. Akhirnya dia bisa menghirup udara luar yah.. hehe :”)
            Karena sudah malam, kami agak kesulitan mencari speedboat yang akan mengantar kami. karena tidak mungkin untuk pakai perahu. Akan makan waktu yang lama. Kebanyakan para driver speedboat enggan untuk mengantar seberang pulau malam-malam. Malah ada yang minta ongkos lebih seperti minta ongkos untuk pulang-perginya sebesar Rp.500 ribu. Ongkos biasanya hanya sebesar 200 ribu. Akhirnya kami menelepon Kak Kahar.. ia punya langganan speedboat.. Kak Kahar memang pergaulannya luas kok, hehe.
            Jadilah kami dapat speedboat seharga biasa Rp.200 ribu. Kerennya, ternyata si bapak driver speedboat ini adalah orang Nunukan. Jadi ia dari Nunukan, menyeberang ke Pulau Sebatik demi menjemput pasien sakit yang akan di rujuk. Anak si ibu, pasien kami ada 9 orang. Untungnya semua anaknya tak ikut datang merujuk ibunya. Hanya ada 3 orang anaknya yang paling dahulu lahir. Dan satu orang yang sudah cukup tua namun masih segar, mungkin ia adalah ibunya pasien, atau neneknya ketiga anak itu. anak-anaknya sudah berusia 24 tahun yang paling tua.
            Dengan sedikit modifikasi dan akal-akalan tempat duduk di speedboat, akhirnya muat untuk kami berdelapan plus nahkoda speed. Kami berlayar menyeberang di gelapnya malam ditengah lautan. Melihat keatas banyak taburan bintang. Kami berlayar di hempas ombak.. dinginnya angin malam cukup menusuk. Kami menyeberang dengan bantuan penyinaran senter yang kecil. Alhamdulillah kami sampai di dermaga.. kali ini dermaganya agak lebih pendek.. karena kami transitdi dermaga Tanah Merah. Disana kami sudah di tunggu para nelayan yang sedang duduk. Disana kami sudah ditunggu dengan gerobak. YA. Tempat transit Tanah Merah ini tidak bisa dilalui mobil ambulance RSUD Nunukan.. karena masih diatas laut.. alias kami hanya berjalan diatas keramba.. lalu  kayu-kayu yang hanya bisa dilalui paling berat oleh motor. Kami bergotong royong mengangkut pasien dengan gerobak. Perlahan tapi pasti.. kami menuju tempat Ambulance parkir. Agak depan jalan. Kami memasukan pasien kedalam mobil Ambulance perlahan.
            Kami sampai di UGD RSUD Nunukan. Pasien segera tidur di ruang UGD, aku melakukan overan pasien kepada dokter jaga malam itu. beliau adalah dokter yang sama, saat aku merujuk pasien ke Nunukan perdana, dr.Bunga. aku menjelaskan segala keluhan dan riwayat sakitnya si pasien. Setelah semuanya beres, berkas ku sebagai tanda penerimaan pasien sudah di tandatangani dan di Cap, lalu kami kembali pulang menaiki ambulance lagi. Beruntung kami bawa Roi sebagai laki-laki yang bisa diandalkan tenaganya untuk bersama-sama mengangkut pasien.
            Kami pulang diantar Ambulance RSUD Nunukan ke Tanah Merah lagi. Kemudian kami menaiki speedboat yang tadi dengan lebih lapang. Aku dan Roi duduk di belaknag dan Kak Ina duduk di sebelah driver speedboat. Aku dan Roi melakukan penerangan dengan cahaya kamera Handphone. Aku sambil sesekali menengok keatas. Melihat.. bintang.. entahlah.. aku selalu suka menatap bintang dari atas laut.. banyak.. bersinar.. seperti menunjukkan suatu arah.. dan memang bagi orang yang memahami ilmunya, bahwa bentuk bintang melukiskan sesuatu yang dimengerti oleh nelayan atau pekerja pelayaran yang ad di laut.
            Setelah sampai pelabuhan Bambangan. Kami kembali naik Ambulance Puskesmas..  dan menjalani perjalanan hampir satu jam. Oh sungguh kepalaku pusiiing.. seperti mabuk laut.. tapi alhamdulillah gak ada drama muntah segala.. haha :”)
            Pukul 11 malam kami sampai di puskesmas, dan kembali kerumah.. yang jaraknya hanya 3 rumah dari tempat tinggal kami.. alhamdulillah untuk malam ini.. walaupun angin lautnya masih menusuk tulang.. segera air hangat aku tenggak sebanyak-banyaknya.. terasa perut terisi penuh dengan angin :”)

Ditulis tanggal: 11 Februari 2016

            Sebaik Tengah, Kalimantan Utara- Indonesia.
            Nusantara Sehat 2 : )

*Informasi terakhir, bahwa keluarga pasien yang kurujuk ini setelah beberapa hari di rawat di RSUD Nunukan, meminta Pulang APS (Pulang Atas Permintaan Sendiri). Kemudian keluarga merujuk pasien secara Mandiri ke Tawau, Malaysia. Informasi terakhir.. Si Pasien meninggal. Karena kanker serviksnya sudah mencapai stadium 4 saat sudah di RSUD Nunukan. Pasien juga sebelumnya sudah alami komplikasi. Sampai keseluruh organ, termasuk organ perkemihan serta oedema seluruh badan. Semoga Ibu yang memiliki 9 anak ini bahagia di sisi Allah, teriring doa dari anak-anakmu yang soleh-sholehah, Bu :)

Kamis, 25 Februari 2016

Merujuk Pasien ke RSUD Nunukan II



dok.pribadi. jelang Mmagrib kami baru menaiki perahu di dermaga Sei Pancang ini.


            Sore ini ba’da ashar, rumah dinas kami didatangi salah satu perawat UGD 24 jam puskesmas Aji Kuning. Memang jarak UGD dengan rumah kami cukup dekat. Tak sampai 3 menit, sudah sampai. Perawat itu datang, dan bilang akan mengajakku untuk kembali merujuk pasien. Saat itu aku tidak bertemu langsung dengan perawat tersebut karena akau sedang shlat Ashar. Yang jelas saat itu aku segera bergegas mengenakan pakaian bebas yang rapi untuk mengantar pasien.
            Sampai di UGD Puskesmas, aku melihat keramiana keluarga pasien.. melihat pasien yang tertidur lemah dengan kondisi wajah yang terluka dan mata yang terlua seperti baru saja dihantam aspal. Di bagian kepala ada sedikit luka. Namun sepertinya terjadi benturan yang cukup kuat hingga si pasien muntah mengeluarkan darah segar lalu muntah yang kedua memuntahkan isi lambungnya.
            Akhirnya dokter  jaga menetapkan diagnosa CKR (Cedera Kepala Ringan) pada pasien. Dan harus di rujuk secepatnya ke Rumah Sakit Daerah Nunukan, yang lebih memadai peralatan dan tenaga medisnya. Kecelakaan ini terjadi antara motor dengan motor. Keduanya tak memakai helm. Tabrakan terjadi. Anak ini juga usianya masih dibawah umur. Jalan di pulau Sebatik Tengah yang cukup mulus namun sepi terkadang membuat pengguna jalan terlena dan berkendara dengan kelajuan yang cepat. Sehingga saat terjadi tabrakan, menjadi sulit terhindar dan beresiko besar jika terjadi tabrakan, akan membuat pengendara terhempas bahkan terlempar akibat rem yang mendadak.
dok.pribadi. ketika si ibu mabuk laut, ada ayah yang setia menjaga. hehe :")

dok.pribadi. lumayan, ombaknya besaar jugaa :"

            Ambulance Puskesmas telah siap, kami menaiki mobil tersebut dan mengantarkan kami ke dermaga Sei Pancang, tempat adanya speedboat dan perahu antar pulau. Perjalanan darat cukup panjang sekitar 40 menit, walaupun tak aku pungkiri keadaan sekitar pepuhonan yang indah-indah itu membuat mataku tak bosan menikmati perjalanan. Namun kami harus bergegas.
            Keluarga pasien tak memesan speedboat melainkan perahu. Karena kondisi pasien yang tak boleh terhempas dan terbanting laju speedboat. Sementara pasien masih dalam kondisi composmentis. Perjalanan jelang magrib itu di lakukan dengan kondisi laut yang cukup bergelombang. Kami sambil berdoa agar segera selamat sampai ke Nunukan dengan selamat. Perjalanan perahu selama 20 menit itu usai. Alhamdulillah. Namun langit mulai gelap, dan petugas keamanan sudah tak ada disana. Tak ada yang membantu kami menaikan pasien yang ada di atas tandu itu.
            Lalu tak lama ada speedboat membawa penumpang lelaki. Warga membantu kami mengangkut psien tersebut sampai ke Ambulance RSUD Nunukan yang sudah menunggu. Segera meluncur ke rumah sakit.. sampai di IGD, dan akhirnya pasien ditangani oleh medis RSUD Nunukan. Alhamdulillah.
dok.pribadi. Alhamdulillah, sampai di Nunukan :)

            Pukul 7 malam kami meninggalkan IGD RSUD Nunukan, dan kembali ke pulau Sebatik. Kami ke dermaga yang tadi idantar mobil ambulace Rumah sakit. Malam.. perahu yang tadi masih menunggu kami. kami naik perahu yang tadi. Perahu ukuran sedang yang berisi 4 penumpang termasuk nahkoda. Ada aku dan kak Fitri (perawat UGD Puskesmas), nahkoda kapal serta anaknya yang masih skitar usia 7 tahunan.
dok.pribadi. Dermaga batu merah, Nunukan. saatnya kembali pulang.. ke Pulau Sebatik :)

            Dalam perjalanan malamku diatas perahu tak ada lampu.. hanya lampu rumah penduduk dan kapal di tengah laut.. tak ada bulan.. hanya ada ribuan bintang yang berhamburan di langit malam itu. Di sisi lain, aku bersyukur bisa menikmati malam indah dengan taburan bintang sejuk banget rasanya, dengar suara laut, sesekali kena percikan ombak, lalu natap bintang, hehe kesyukuran banget rasanya. Semoga aku bisa bermanfaat dimanapun aku berada. Aamiin.
dok.pribadi. perahuuu tenang, dan nyiprat nyiprat air laut :"

dok.pribadi. lihat dengan mata kepala langsung, lebih okeee pemandangannya :)

            “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan??” :’)
Pulau Sebatik, Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Ditulis tanggal 8 Februari 2016

Jumat, 05 Februari 2016

Merujuk si Sakit sampai Malaysia




 
dok.pribadi.. perjalanan menuju Tawau, malaysia
Pagi ini aku agak kaget. Gak biasanya. Kemarin pasien perawatan hanya tinggal 2 orang. Sekarang.. di meja dokter udah ada 5 status pasien berderet. “Wah.. banyak pasien kah kak?” tanyaku. “Iyadek, kemarin borong ni pasien datang ramai..” jawab kak Nur, salah satu bidan di Puskesmas tempatku bertugas.
            Puskesmas Aji Kuning, Kecamatan  Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara ini memang memiliki UGD 24 jam dan ruang rawat inap, serta ruang rawat bagi nifas. Tempat tidur ada 6 dalam 2 ruangan. sedangkan ruang nifas bagi ibu baru hamil adalah sebelah ruang VK (ruang bersalin). Salah satu dari 5 pasien tersebut berstatus cukup urgent, “Harus di rujuk..” kata dr.Eka.
            Pasien tersebut mengalami kejang berulang-ulang.. setiap kejang bisa sampai 10 menit. Sebelumnya sebelum pukul 7 pasien mengalami kejang, lalu dokter visit pukul 8, kondisi pasien bisa ikut perintah, namun tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan. Pandangannya masi sering kosong. Pasien berusia 19 tahun. Ini bukan kejang deman seperti anak-anak yah, hehe. Dan ibu pasien malah mengatakan, sejak kecil si pasien tidak pernah sama-sekali kejang. “Pasien harus dirujuk, saya curiganya, Makcik.. pasien ini kejang karena kurang oksigen dalam otak, atau karena demamnya, takutnya makcik.. ini jadi radang otak kalau terus-terusan kejang. Harus cepat dirujuk Makcik.. bahaya kalau kita lambat merujuk..” tukas dr.Eka.
            Ibu pasien terlihat sedih, “Hm yelah..yelah.. kita telpon dulu ayahnya. Mana tau mau kita rujuk ke Tawau kan..” ucap si ibu pasien. Aku langsung lirik Kak Kahar.. beliau senyum, seakan tau apa yang aku pikirkan.. merujuk ke Tawau Hospital.. Ya. Aku memang penasaran ingin merujuk kesana. Ingin tau banyak tentang rumah sakit yang ada di Malaysia. Kapan lagi kan, bantu pasien sambil lihat negara tetangga.. tanpa pasport lagi, hehe. Karena kami ada surat jalan, bahwa akan merujuk ke Tawau.
            Keluarga pasien wilayah Sebatik Tengah, cukup jarang ada yang pilih rujuk ke Tawau. Selain karena alasan dana. Padahal, rujuk ke Tawau lebih dekat daripada rujuk ke rumah sakit daerah kabupaten.. ke Nunukan. Sama.. sama-sama pakai speedboat menuju kesana. Bedanya.. bagi pasien yang pilih rujuk ke Tawau Hospital.. mereka pasti memiliki saudara di Tawau, yang memiliki kartu ID khusus untuk masyarakat Malaysia, jadi harga lebih murah. Ohya, di Tawau gak berlaku BPJS yah.hehe. kalau pasien yang pilih rujuk ke RSUD Nunukan adalah pasien yang memiliki kartu jaminan atau BPJS.
            “Siap-siaplah Rinta.. kau ganti pakai seragam putih.. kau berangkat sama Sarinah. Kau jago kan Bahasa Inggris? Di Hospital orang pakai bahasa Inggris semua..” ucap Kak Kahar.
            “Asik. Oke kak. Kak Sarinah ndak ganti seragam putih juga?” tanyaku ke Kak Sarinah.
            “Ndaklah... kau aja yang pakai seraga putih.. nanti kau yang masuk ruangan, overan sama nurse disana..” ucap Kak Kahar dengan gaya khasnya.
            “Kak.. aku kan anak baru.. teganyaa..” ucapku lalu pulang kerumah untuk salin pakai seragam putih-putih. rumah dinas tim nusantara sehat hanya berjarak tiga rumah saja. Jalan kaki 3 menit, sudah sampai kerumah.
***
            Kami sudah sampai di Somel. Disini salah satu tempat pemberhentian kapal menuju Tawau. Selama perjalanan darat dengan ambulance puskesmas, cukup buat heboh warga sekitar. Sirene di hidupkan Kak Kahar. Kak Kahar si penanggung jawab rawat inap UGD ini akhirnya mau jadi driver sementara, karena pasiennya urgent. Tadi aja pasien kejang lagi hampir 10  menit. Sirena ambulance di hidupkan kak Kahar. Semua anak-anak, orang tua yang rumahnya dipinggir jalan,keluar rumah. Bayangkan, keluar rumah.. hanya untuk melihat mobil yang sirenenya menggelegar itu. hahaha
dok.pribadi. Di Malaysia juga banyak 'Teksi'


            Oke kembali. Disana speedboat sudah menunggu. Speedboat memang sudah dipesan oleh Kak Kahar via telpon. Wilayah Somel adalah wilayah paling perbatasan Indonesia-Malaysia. Malah ada ‘wisata perbatasan somel’ yang merupakan wisata ‘tandapetik’ disana, maksudnya?ya ituuu wisata ‘tandapetik’.hehe. warga, terutama anak-anak ramai membututi kami dari belakang. Mereka kepo banget, sama pasien yang ada di atas tandu. Yak, pasien lemah.  Kali ini boatnya cukup lumayan besar daripada speedboat ke Nunukan kala itu.
            Untuk harga speedboat dari Somel ke Tawau pulang-pergi adalah sebesar 100 Ringgit Malaysia (RM) atau sebesar Rp.350 ribu.  Keluarga pasien yang ikut ke Tawau ada dua orang, yakni ayah dan ibu pasien. Sedangkan dari Puskesmas ada 3 orang, aku, kak Sarinah (perawat Pkm), dan Yolla (salah satu tim NS ku, profesi tenaga kesehatan Lingkungan), iya pingin tau merujuk, hehe.
            Keadaan laut cukup tenang. Eh, kami di samudera loh. Dan memang ombak menuju Tawau terkenal kencang.  Speedboat berlayar cepat, malah dalam kemiringan 45 derajat. Bayangkan, lalu ada ombak mengempas, speedboat terbanting, terbanting lagi, sampai pasien pun badannya ikut terbanting. Sesekali Kak Sarina teriak agar nahkoda tak terlalu kencang, kasien pasien. Namun namanya Speedboat memang selalu kencang.

            Sekitar 20 menit kami berada di tengah laut, terombang ambing, dihempas, di banting ombak. Cukup pusing kepalaku. Namun harus menegakkan kepala, demi sampainya pasien di Tawau Hospital. Boat kami tak langsung sampai di dermaga. Kami di over lagi.. karena perbatasan kapal Indonesia-Malaysia. Kami dijemput oleh rekanan nahkoda itu..  ada perahu milik warga Malaysia menjemput kami. “Antar orang sakit!” teriak pengemudi speedboat kami. “Yelah.. naik.. naik.. “ ucap pengemudi perahu pada kami dengan logat khas. Hanya 5 menit, kami sampai di pelabuhan. Yak, pelabuhan di Tawau, negara Malaysia.
            Sampai disana, keluarga pasien yang ada di Tawau sudah menunggu. Kami langsung gegas menuju Tawau Hospital. Aku memanfaatkan kesempatan.. melihat kanan-kiri, melihat suasana negara tetangga, mumpung ada di Malaysia hehe. Kadang aku senyum sendiri melihat bahasa yang digunakan di Malaysia, unik bahasanya. Ada tulisan banner iklan “Internet untuk Kenikmatan, Jom Berinspirasi”, ada juga tulisan iklan.. “Dahagakan Cabaran!Koleksi Tin Bola Sepak..” dan lain-lain. Bahasa Indonesia dan Malaysia memiliki perbedaan tatanan, dan itu yang buat unik.
dok.pribadi. foto setelah pasien di overkan ke nurse hospital. di depan Jabatan Kecemasan (Instalasi Gawat Darurat)

            Sampailah kami di Tawau Hospital. Waaah, cukup luas, besar, parkirannnya luas.. terlihat tulisan.. “Jabatan Kecemasan”, eh apaan tuh? Disanalah kami parkir dan menurunkan pasien. Yak, itu adalah ruang IGD nya Tawau Hospital. Jabatan Kecemasan itu kalau dalam bahasa Indonesia adalah Instalasi Gawat Darurat. Kami disambut dengan perawat laki-laki berbadan besar, wajah ke indiaan, dengan seragam merah maroon, khas IGD. Kami ditanya surat tugasnya, kak Sarinah memberikan suratnya, lalu pasien dibawa ke dalam ‘Jabatan Kecemasan’. Pasien dimasukkan ke ruangan “Zon Kuning’. Yak, ruangan yang memiliki pintu warna kuning, dan pintu hanya bisa dibuka dengan sensor ID card tenaga medis yang ada di pinggir pintu, atau kode Hospital yang hanya diketahui tenaga medis sana. Boleh juga, menurutku hal ini efektif untuk mengurangi mondar-mandirnya keluarga pasien.
dok.pribadi. pulaaang naik perahu... kemudian lanjut speedboat :")

            Sayangnya Igd rapi dan tertutup itu sudah ada peringatan besar-besar untuk tak boleh memotret atau memvidiokan. Padahal pasien sama sekali tak terlihat. Memasuki jabatan kecemasan, membuat fikiranku melayang.. membandingkan IGD RS tempatku bekerja dulu, wuuh bedanyaaa. Memasuki ruang IGD nya Malaysia ini.. ah pokoknya kelas internasional deh. Bersih.. tertata. Di RS tempatku sebelumnya, ruang triase hanyalah papan anam diatas. Tapi tak ada klasifikasi tempat zona hijau. Merah, kuning, atau hitam kah. Kalau di hospital ini langsung ada ruangan tiap zonanya.. zona merah masuk ke kanan, dan tertutup dengan pintu warna merah. Zona kuning ada pas di depan pintu masuk IGD, dan zona hijau ada di kiri ruangan. disana juga banyak pasien yang mengantri untuk pemeriksaan (poli), pasien-pasien yang mengantri ini masuk zona hijau. Disana ada dokter, perawat yang memeriksa.
            Nah jika telah diperiksa di zona hijau, lalu pasien dinyatakan harus di rawat, pasien ini akan segera pindah ke zona kuning, disana pasien akan diberi perawatan selayaknya di zona itu. semua tertata rapi.. ruang administrasi di sana,  ruang perawat disini. Ada lorongnya.. aku juga melihat cleaning service hospital ini.. waah APD nya oke deh. Mereka pakai jubah plastik, sepatu, handscoon. Pikir kalau di RS tempatku dulu.. wah sama sekali gak pakai APD. Padahal tugas sebagai cleaning service cukup beresiko. Ohya, ternyata.. pasien umum orang Malaysia, ketika akan dirawat.. harus punya dana dulu sebesar 600-800 ringgit. Baru boleh masuk berobat. Sedangkan orang luar Malaysia, seperti orang Indonesia jika ingin dirawat, pasien harus memiliku uang sebesar 1100-1200 Ringgit Malaysia. 1 ringgit: Rp. 3500). Namun jika warga Malaysia punya kartu jaminan, harganya bisa sangat murah untuk mendapatkan pengobatan.
            Kami selesai antar pasien. Keluarga pasien yang tadi jemput kami di pelabuhan, mengantar kami kembali. Kami minta diturunkan di sebuah toko yang dekat dengan pelabuhan. Disana harga buah sangat murah, maksudnya lebih murah dari harga jual di sebatik. Selain itu makanan seperti sosis nugget, disini juga lebuh murah, beruntung aku dan Yolla punya persediaan uang ringgit. Hehe. Kami beli ini itu sesuai kebutuhan kami, maklum.. kan sudah punya kulkas, hehe.
            Kami di pelabuhan. Naik perahu si pakcik yang jemput kami tadi. Lalu ia mengantar kami ke perbatasan itu, tempat perahu dan speedboat orang Indoensua bersandar. Kami melihat.. wah mana ini.. speedboat kami tadi gak ada. mapah ada yang bilang sudah pulang. Kak Sarinah ikut kesal, karena uang ongkos kapal sudah di berikan ke nahkoda speedboat, seharusnya uang ongkos diberikan saat sudah kembali lagi ke Sebatik. Ini resikonya,, huaa.. gimana iniii. Akhirnya kami naik saja ke kapal besar itu. sambil menunggu. Kami menghubungi Kak Kahar. Namun kartu kami semua roaming. Aku coba sms kak Kahar, dan bilang.. telpon balik, karena speedboatnya  meninggalkan kami. sms aku kirim.. lalu cek pulsa. Taraaaaa! Pulsa ku hilang 6 ribu brooo :”). Dan pulsa tinggal seribu. Lalu Kak Kahar telpon kami, dan aku ga bisa angkat. Pasti mati lagi telponnya. Iyalah.. pulasaku kan tinggal seribu, mana bisa di sedot sama roaming. Haha.
dok.pribadi. disini temoat persinggahan kapal dari Indonesia.. kemudian kami dijemput oleh perahu Malaysia disni. pulangnya pun begitu. Saat kami di tinggal speedboat pun kami bertahan disni setengah jam :")

            Tak lama, ada orang yang teriak..”Ada operasi!” lalu semua berlarian, dan kapal besar itu  jadi hening. Kontan kami ikut suasana dong. Ikutan nyumput dan berpikir.. gimana kalau ketangkep dan dituduh selundupan? Huaaa. Eh tapi kami punya surat jalan, surat inilah yang akan ditunjukan ke polis Malaysia itu.
            Setengah jam kemudian speedboat kami datang. kami kecewa, boatnya gak setia. buktinya si nahkoda ambil klien baru. Penumpang yang akan pindah rumah mungkin. karena barangnya itu banyaaak banget. Kami bertiga gak cukup ada disana. Akhirnya ada satu speed temannya speed kami yang berkhianat itu, hehe. Kami naik ke speedboatnya.. dan berada di bawah matahari sore yang terik. Selama 20 menit kami ditengah laut. Terombang ambing dan di banting ombak. Lalu kami sampai kembali ke Sebatik Utara itu.. wialayah Somel. Alhamdulillah. Terlihat kak Kahar dengan mobil putih bak belakang. Beliau pakai baju biru lengan pendek dan celana pendek, keringatan, bukan karena olahraga, tapi karena angkatin barang ke bak mobilnya. Banyak banget barang ber kardus dan di dalam karung, ia menatanya, mengikatnya sampai keringatnya bercucuran. “Inilah pekerjaanku kalau sore.. mana pernah ku tidur siang. Tapi perut gendut juga.. nah liat tangan ini, mana bisa halus.. angkat beban terus..” ucap Kak Kahar santai dengan gaya khasnya.

dok.pribadi. belanjaaa, mumpung di Malaysia. beli kebutuhan dapur, mumpung murah.. hehe siap siap Ringgit! :)

            Kadang salut juga sama Kak Kahar, tetap kerja banting tulang, padahal ia sudah PNS disini... memang gaji sebagai PNS gak cukup untuk biaya kehidupan keluarga, istri, sekolah anak-anak, dll. Maka gak heran ada yang bilang sebagai PNS gaji selalu pas kurangnya. Dan banyak kejadian bahwa walaupun PNS, rata-rata memiliki pekerjaan sampingan, ntah berdagang atau apapun. Well bekerjalah, carilah hasil, keberkahan dan rezeki sebanyaknya di bumi Allah, secara halal dan bahagia. Kak Sarinah diantar sampai depan rumah, karena tak jauh dari pelabuhan rumahnya. Sedangkan kami diantar sampai persimpanagan puskesmas. “Jalan sikit yah.. ndak enaklah aku ke Puskesmas sambil bawa barang banyak ni.. ini mau diantar ke desa Sei Pancang.. mau diantar ke yang punya..” ucap Kak Kahar, kami turun. Jalan sedikit gak masalah kok, dekeet. “Makasih Kak Kahar!” ucap aku dan Yolla, sambil bawa barang belanjaan. “Eh kita ini habis shopping dari luar negeri yah?” tanyaku sama Yolla sambil tertawa :) 

Well, kalo bukan melalui Nusantara Sehat, mungkin aku gak bakal dapat kesempatan begini seru. merujuk pasien sampai ke negeri seberang :)

Puskesmas Aji Kuning, 23 Januari 2016
Sebatik Tengah, Kalimantan Utara –Indonesia-