Tampilkan postingan dengan label Nusantara Sehat Batch 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara Sehat Batch 2. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2016

Merujuk si Sakit sampai Malaysia




 
dok.pribadi.. perjalanan menuju Tawau, malaysia
Pagi ini aku agak kaget. Gak biasanya. Kemarin pasien perawatan hanya tinggal 2 orang. Sekarang.. di meja dokter udah ada 5 status pasien berderet. “Wah.. banyak pasien kah kak?” tanyaku. “Iyadek, kemarin borong ni pasien datang ramai..” jawab kak Nur, salah satu bidan di Puskesmas tempatku bertugas.
            Puskesmas Aji Kuning, Kecamatan  Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara ini memang memiliki UGD 24 jam dan ruang rawat inap, serta ruang rawat bagi nifas. Tempat tidur ada 6 dalam 2 ruangan. sedangkan ruang nifas bagi ibu baru hamil adalah sebelah ruang VK (ruang bersalin). Salah satu dari 5 pasien tersebut berstatus cukup urgent, “Harus di rujuk..” kata dr.Eka.
            Pasien tersebut mengalami kejang berulang-ulang.. setiap kejang bisa sampai 10 menit. Sebelumnya sebelum pukul 7 pasien mengalami kejang, lalu dokter visit pukul 8, kondisi pasien bisa ikut perintah, namun tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan. Pandangannya masi sering kosong. Pasien berusia 19 tahun. Ini bukan kejang deman seperti anak-anak yah, hehe. Dan ibu pasien malah mengatakan, sejak kecil si pasien tidak pernah sama-sekali kejang. “Pasien harus dirujuk, saya curiganya, Makcik.. pasien ini kejang karena kurang oksigen dalam otak, atau karena demamnya, takutnya makcik.. ini jadi radang otak kalau terus-terusan kejang. Harus cepat dirujuk Makcik.. bahaya kalau kita lambat merujuk..” tukas dr.Eka.
            Ibu pasien terlihat sedih, “Hm yelah..yelah.. kita telpon dulu ayahnya. Mana tau mau kita rujuk ke Tawau kan..” ucap si ibu pasien. Aku langsung lirik Kak Kahar.. beliau senyum, seakan tau apa yang aku pikirkan.. merujuk ke Tawau Hospital.. Ya. Aku memang penasaran ingin merujuk kesana. Ingin tau banyak tentang rumah sakit yang ada di Malaysia. Kapan lagi kan, bantu pasien sambil lihat negara tetangga.. tanpa pasport lagi, hehe. Karena kami ada surat jalan, bahwa akan merujuk ke Tawau.
            Keluarga pasien wilayah Sebatik Tengah, cukup jarang ada yang pilih rujuk ke Tawau. Selain karena alasan dana. Padahal, rujuk ke Tawau lebih dekat daripada rujuk ke rumah sakit daerah kabupaten.. ke Nunukan. Sama.. sama-sama pakai speedboat menuju kesana. Bedanya.. bagi pasien yang pilih rujuk ke Tawau Hospital.. mereka pasti memiliki saudara di Tawau, yang memiliki kartu ID khusus untuk masyarakat Malaysia, jadi harga lebih murah. Ohya, di Tawau gak berlaku BPJS yah.hehe. kalau pasien yang pilih rujuk ke RSUD Nunukan adalah pasien yang memiliki kartu jaminan atau BPJS.
            “Siap-siaplah Rinta.. kau ganti pakai seragam putih.. kau berangkat sama Sarinah. Kau jago kan Bahasa Inggris? Di Hospital orang pakai bahasa Inggris semua..” ucap Kak Kahar.
            “Asik. Oke kak. Kak Sarinah ndak ganti seragam putih juga?” tanyaku ke Kak Sarinah.
            “Ndaklah... kau aja yang pakai seraga putih.. nanti kau yang masuk ruangan, overan sama nurse disana..” ucap Kak Kahar dengan gaya khasnya.
            “Kak.. aku kan anak baru.. teganyaa..” ucapku lalu pulang kerumah untuk salin pakai seragam putih-putih. rumah dinas tim nusantara sehat hanya berjarak tiga rumah saja. Jalan kaki 3 menit, sudah sampai kerumah.
***
            Kami sudah sampai di Somel. Disini salah satu tempat pemberhentian kapal menuju Tawau. Selama perjalanan darat dengan ambulance puskesmas, cukup buat heboh warga sekitar. Sirene di hidupkan Kak Kahar. Kak Kahar si penanggung jawab rawat inap UGD ini akhirnya mau jadi driver sementara, karena pasiennya urgent. Tadi aja pasien kejang lagi hampir 10  menit. Sirena ambulance di hidupkan kak Kahar. Semua anak-anak, orang tua yang rumahnya dipinggir jalan,keluar rumah. Bayangkan, keluar rumah.. hanya untuk melihat mobil yang sirenenya menggelegar itu. hahaha
dok.pribadi. Di Malaysia juga banyak 'Teksi'


            Oke kembali. Disana speedboat sudah menunggu. Speedboat memang sudah dipesan oleh Kak Kahar via telpon. Wilayah Somel adalah wilayah paling perbatasan Indonesia-Malaysia. Malah ada ‘wisata perbatasan somel’ yang merupakan wisata ‘tandapetik’ disana, maksudnya?ya ituuu wisata ‘tandapetik’.hehe. warga, terutama anak-anak ramai membututi kami dari belakang. Mereka kepo banget, sama pasien yang ada di atas tandu. Yak, pasien lemah.  Kali ini boatnya cukup lumayan besar daripada speedboat ke Nunukan kala itu.
            Untuk harga speedboat dari Somel ke Tawau pulang-pergi adalah sebesar 100 Ringgit Malaysia (RM) atau sebesar Rp.350 ribu.  Keluarga pasien yang ikut ke Tawau ada dua orang, yakni ayah dan ibu pasien. Sedangkan dari Puskesmas ada 3 orang, aku, kak Sarinah (perawat Pkm), dan Yolla (salah satu tim NS ku, profesi tenaga kesehatan Lingkungan), iya pingin tau merujuk, hehe.
            Keadaan laut cukup tenang. Eh, kami di samudera loh. Dan memang ombak menuju Tawau terkenal kencang.  Speedboat berlayar cepat, malah dalam kemiringan 45 derajat. Bayangkan, lalu ada ombak mengempas, speedboat terbanting, terbanting lagi, sampai pasien pun badannya ikut terbanting. Sesekali Kak Sarina teriak agar nahkoda tak terlalu kencang, kasien pasien. Namun namanya Speedboat memang selalu kencang.

            Sekitar 20 menit kami berada di tengah laut, terombang ambing, dihempas, di banting ombak. Cukup pusing kepalaku. Namun harus menegakkan kepala, demi sampainya pasien di Tawau Hospital. Boat kami tak langsung sampai di dermaga. Kami di over lagi.. karena perbatasan kapal Indonesia-Malaysia. Kami dijemput oleh rekanan nahkoda itu..  ada perahu milik warga Malaysia menjemput kami. “Antar orang sakit!” teriak pengemudi speedboat kami. “Yelah.. naik.. naik.. “ ucap pengemudi perahu pada kami dengan logat khas. Hanya 5 menit, kami sampai di pelabuhan. Yak, pelabuhan di Tawau, negara Malaysia.
            Sampai disana, keluarga pasien yang ada di Tawau sudah menunggu. Kami langsung gegas menuju Tawau Hospital. Aku memanfaatkan kesempatan.. melihat kanan-kiri, melihat suasana negara tetangga, mumpung ada di Malaysia hehe. Kadang aku senyum sendiri melihat bahasa yang digunakan di Malaysia, unik bahasanya. Ada tulisan banner iklan “Internet untuk Kenikmatan, Jom Berinspirasi”, ada juga tulisan iklan.. “Dahagakan Cabaran!Koleksi Tin Bola Sepak..” dan lain-lain. Bahasa Indonesia dan Malaysia memiliki perbedaan tatanan, dan itu yang buat unik.
dok.pribadi. foto setelah pasien di overkan ke nurse hospital. di depan Jabatan Kecemasan (Instalasi Gawat Darurat)

            Sampailah kami di Tawau Hospital. Waaah, cukup luas, besar, parkirannnya luas.. terlihat tulisan.. “Jabatan Kecemasan”, eh apaan tuh? Disanalah kami parkir dan menurunkan pasien. Yak, itu adalah ruang IGD nya Tawau Hospital. Jabatan Kecemasan itu kalau dalam bahasa Indonesia adalah Instalasi Gawat Darurat. Kami disambut dengan perawat laki-laki berbadan besar, wajah ke indiaan, dengan seragam merah maroon, khas IGD. Kami ditanya surat tugasnya, kak Sarinah memberikan suratnya, lalu pasien dibawa ke dalam ‘Jabatan Kecemasan’. Pasien dimasukkan ke ruangan “Zon Kuning’. Yak, ruangan yang memiliki pintu warna kuning, dan pintu hanya bisa dibuka dengan sensor ID card tenaga medis yang ada di pinggir pintu, atau kode Hospital yang hanya diketahui tenaga medis sana. Boleh juga, menurutku hal ini efektif untuk mengurangi mondar-mandirnya keluarga pasien.
dok.pribadi. pulaaang naik perahu... kemudian lanjut speedboat :")

            Sayangnya Igd rapi dan tertutup itu sudah ada peringatan besar-besar untuk tak boleh memotret atau memvidiokan. Padahal pasien sama sekali tak terlihat. Memasuki jabatan kecemasan, membuat fikiranku melayang.. membandingkan IGD RS tempatku bekerja dulu, wuuh bedanyaaa. Memasuki ruang IGD nya Malaysia ini.. ah pokoknya kelas internasional deh. Bersih.. tertata. Di RS tempatku sebelumnya, ruang triase hanyalah papan anam diatas. Tapi tak ada klasifikasi tempat zona hijau. Merah, kuning, atau hitam kah. Kalau di hospital ini langsung ada ruangan tiap zonanya.. zona merah masuk ke kanan, dan tertutup dengan pintu warna merah. Zona kuning ada pas di depan pintu masuk IGD, dan zona hijau ada di kiri ruangan. disana juga banyak pasien yang mengantri untuk pemeriksaan (poli), pasien-pasien yang mengantri ini masuk zona hijau. Disana ada dokter, perawat yang memeriksa.
            Nah jika telah diperiksa di zona hijau, lalu pasien dinyatakan harus di rawat, pasien ini akan segera pindah ke zona kuning, disana pasien akan diberi perawatan selayaknya di zona itu. semua tertata rapi.. ruang administrasi di sana,  ruang perawat disini. Ada lorongnya.. aku juga melihat cleaning service hospital ini.. waah APD nya oke deh. Mereka pakai jubah plastik, sepatu, handscoon. Pikir kalau di RS tempatku dulu.. wah sama sekali gak pakai APD. Padahal tugas sebagai cleaning service cukup beresiko. Ohya, ternyata.. pasien umum orang Malaysia, ketika akan dirawat.. harus punya dana dulu sebesar 600-800 ringgit. Baru boleh masuk berobat. Sedangkan orang luar Malaysia, seperti orang Indonesia jika ingin dirawat, pasien harus memiliku uang sebesar 1100-1200 Ringgit Malaysia. 1 ringgit: Rp. 3500). Namun jika warga Malaysia punya kartu jaminan, harganya bisa sangat murah untuk mendapatkan pengobatan.
            Kami selesai antar pasien. Keluarga pasien yang tadi jemput kami di pelabuhan, mengantar kami kembali. Kami minta diturunkan di sebuah toko yang dekat dengan pelabuhan. Disana harga buah sangat murah, maksudnya lebih murah dari harga jual di sebatik. Selain itu makanan seperti sosis nugget, disini juga lebuh murah, beruntung aku dan Yolla punya persediaan uang ringgit. Hehe. Kami beli ini itu sesuai kebutuhan kami, maklum.. kan sudah punya kulkas, hehe.
            Kami di pelabuhan. Naik perahu si pakcik yang jemput kami tadi. Lalu ia mengantar kami ke perbatasan itu, tempat perahu dan speedboat orang Indoensua bersandar. Kami melihat.. wah mana ini.. speedboat kami tadi gak ada. mapah ada yang bilang sudah pulang. Kak Sarinah ikut kesal, karena uang ongkos kapal sudah di berikan ke nahkoda speedboat, seharusnya uang ongkos diberikan saat sudah kembali lagi ke Sebatik. Ini resikonya,, huaa.. gimana iniii. Akhirnya kami naik saja ke kapal besar itu. sambil menunggu. Kami menghubungi Kak Kahar. Namun kartu kami semua roaming. Aku coba sms kak Kahar, dan bilang.. telpon balik, karena speedboatnya  meninggalkan kami. sms aku kirim.. lalu cek pulsa. Taraaaaa! Pulsa ku hilang 6 ribu brooo :”). Dan pulsa tinggal seribu. Lalu Kak Kahar telpon kami, dan aku ga bisa angkat. Pasti mati lagi telponnya. Iyalah.. pulasaku kan tinggal seribu, mana bisa di sedot sama roaming. Haha.
dok.pribadi. disini temoat persinggahan kapal dari Indonesia.. kemudian kami dijemput oleh perahu Malaysia disni. pulangnya pun begitu. Saat kami di tinggal speedboat pun kami bertahan disni setengah jam :")

            Tak lama, ada orang yang teriak..”Ada operasi!” lalu semua berlarian, dan kapal besar itu  jadi hening. Kontan kami ikut suasana dong. Ikutan nyumput dan berpikir.. gimana kalau ketangkep dan dituduh selundupan? Huaaa. Eh tapi kami punya surat jalan, surat inilah yang akan ditunjukan ke polis Malaysia itu.
            Setengah jam kemudian speedboat kami datang. kami kecewa, boatnya gak setia. buktinya si nahkoda ambil klien baru. Penumpang yang akan pindah rumah mungkin. karena barangnya itu banyaaak banget. Kami bertiga gak cukup ada disana. Akhirnya ada satu speed temannya speed kami yang berkhianat itu, hehe. Kami naik ke speedboatnya.. dan berada di bawah matahari sore yang terik. Selama 20 menit kami ditengah laut. Terombang ambing dan di banting ombak. Lalu kami sampai kembali ke Sebatik Utara itu.. wialayah Somel. Alhamdulillah. Terlihat kak Kahar dengan mobil putih bak belakang. Beliau pakai baju biru lengan pendek dan celana pendek, keringatan, bukan karena olahraga, tapi karena angkatin barang ke bak mobilnya. Banyak banget barang ber kardus dan di dalam karung, ia menatanya, mengikatnya sampai keringatnya bercucuran. “Inilah pekerjaanku kalau sore.. mana pernah ku tidur siang. Tapi perut gendut juga.. nah liat tangan ini, mana bisa halus.. angkat beban terus..” ucap Kak Kahar santai dengan gaya khasnya.

dok.pribadi. belanjaaa, mumpung di Malaysia. beli kebutuhan dapur, mumpung murah.. hehe siap siap Ringgit! :)

            Kadang salut juga sama Kak Kahar, tetap kerja banting tulang, padahal ia sudah PNS disini... memang gaji sebagai PNS gak cukup untuk biaya kehidupan keluarga, istri, sekolah anak-anak, dll. Maka gak heran ada yang bilang sebagai PNS gaji selalu pas kurangnya. Dan banyak kejadian bahwa walaupun PNS, rata-rata memiliki pekerjaan sampingan, ntah berdagang atau apapun. Well bekerjalah, carilah hasil, keberkahan dan rezeki sebanyaknya di bumi Allah, secara halal dan bahagia. Kak Sarinah diantar sampai depan rumah, karena tak jauh dari pelabuhan rumahnya. Sedangkan kami diantar sampai persimpanagan puskesmas. “Jalan sikit yah.. ndak enaklah aku ke Puskesmas sambil bawa barang banyak ni.. ini mau diantar ke desa Sei Pancang.. mau diantar ke yang punya..” ucap Kak Kahar, kami turun. Jalan sedikit gak masalah kok, dekeet. “Makasih Kak Kahar!” ucap aku dan Yolla, sambil bawa barang belanjaan. “Eh kita ini habis shopping dari luar negeri yah?” tanyaku sama Yolla sambil tertawa :) 

Well, kalo bukan melalui Nusantara Sehat, mungkin aku gak bakal dapat kesempatan begini seru. merujuk pasien sampai ke negeri seberang :)

Puskesmas Aji Kuning, 23 Januari 2016
Sebatik Tengah, Kalimantan Utara –Indonesia-

Rabu, 27 Januari 2016

Merujuk Pasien Perdana ke RSUD Nunukan





            “Rin.. berangkat merujuk ya..” Ucap Kak Kahar selepas apel siang.
            Ha? Aku mau aja, merujuk. Ke Nunukan. Kesana naik Speedboat. Asiik.
            Ah ya, pasien ini masuk pukul 9 pagi tadi. Dengan keluhan bengkak seluruh tubuh, CRT > 2detik, lemas, agak sesak, tensi tinggi dan terlihat pucat. Pakcik ini mengatakan sudah seminggu ini dia pipisnya sedikit sekali. Sementara ia bertahan saja dirumahnya, sampai akhirnya bengkak seperti sekarang ini. Dokter memeriksa. Dokter langsung menyarankan untuk di rujuk. Sebelumnya advice untuk dipasangkan infus, tetesan Asnet, IvfD NaCl 0,9 % dan injeksi Furosemide 1 ampul IV/ 8jam. Lalu pasang kateter urine. Kami agak kesulitan memasang infus, namanya juga pasien dengan oedema. Pembuluh lelaki yang harusnya besar dan jelas, kini tenggelam dengan cairan dalam tubuhnya. Akhirnya walau dengan 2 kali tusukm kakek 79 tahun ini bisa juga diinfus. Kemudian pemasangan kateter dilakukan oleh perawat laki-laki.. pertama sudah dicoba dengan kateter ukuran 18, namun tak bisa,, selang pasti keluar lagi.. kata kakak perawat, teraba prostatnya juga. Akhirnya selang kateter diganti dengan ukuran lebih kecil,, ukuran 16. Kateter bisa dipasang.. urine mengalir deras bahkan langsung 500 cc.

            Pasien dan keluarga awalnya menolak di rujuk. Sebenarnya bukan karena keluarga yang menolak.. namun si pasien yang menolak.. karena kepikiran anaknya yang harus tinggal dimana kalau ia dirawat ke Nunukan. Akhirnya saat observasi pukul 12 siang, aku beri pemahaman pada pasien dan keluarga. Apalagi tadi hasil pemeriksaan darah lengkap, ternyata HB si kakek hanya 4,2 gr/dl. Dokter juga sudah menjelaskan bahwa tindakan tranfusi hanya bisa dilakukan di RSUD Nunukan yang memiliki fasilitas pmi & bank darah. Aku memberi pemahaman pada si kakek gak perlu khawatir dengan anak-anaknya yang ikut ke Nunukan. Karena yang lebih penting adalah usaha menyembuhkan si kakek.


            Oke akhirnya sore hari keluarga pasien baru bilang setuju, dan kami siap-siap berangkat. Dokter Eka yang tadi sudah pulang, kami hubungi kembali supaya membuat surat rujukan.. untungnya staf penting puskesmas rumahnya gak jauh-jauh. Setelah persyaratan selesai, fotokopi ini itu sudah kami berangkat. Pasien dimasukkan kedalam mobil ambulance puskesmas.. lalu kami siap menuju dermaga untuk mendapatkan speedboat menuju Nunukan. Keluarga pasien bernegosiasi dengan nahkoda kapal untuk pulang perginya. Setelah speedboat sampai, kami menuju kapal cepat itu. Aku duduk di paling depan.
            Duduk di depan sebelah nahkoda,, sebelah lagi adalah keluarga pasien yang membawa balita. Langsung berhadapan langsung dengan ombak, diterjang.. dan dihantam-hantam itu speedboat. Si nahkoda juga sambil pakai helm, karena silaunya sinar mentari sore. Namun kami datang lebih cepat, karena speedboatnya memang berjalan cepat. Kami sampai.. petugas dermaga dengan sigap mengambil kursi roda untuk pasien kami yang sakit. Sebelumnya kami sudah menelpon pihan RSUD Nunukan agar menjemput kami di dermaga. Ternyata sampai sana.. supir ambulance RSUD Nunukan sudah standby menunggu kami. kami lansgung menuju RSUD Nunukan.

            Sesampainya di IGD, pasien segera disambut oleh perawat IGD. Dimasukkan kedalam ruangan dan dirapikan. Memasuki IGD saja, kami harus lepas sendal..  dan petugas didalamnya pun pakai sendala ala-ala ruang steril. Jadi kami lepas sendal.. jujur dibandingkan dengan RSUD tempat aku kerja di Lampung dulu, RSUD Nunukan lebih tertata dan bersih.. tempat administrasinya pun tertata. Pasien masuk lalu  aku dan kak Fatma selaku perawat yang mengantar pasien melakukan overan dan penjelasan kepada dokter jaga. Mengenai terapi apa saja yang sudah diberikan, TTV yang dilakukan tadi siang dan lain sebagainya, hingga kata dokternya... “Oke..” kami baru pulang : )

            Pulangnya.. sama kami diantar kembali ke dermaga oleh petugas ambulance RSUD Nunukan. Kami naik speedboat yang tadi lagi. Kali ini lebih lapang dan tak ada orang sakit didalamnya.. walaupun ada tambahan 5 orang lelaki yang terdiri dari TNI dan perawat dari wilayah lain.. setidaknya didalamnya gak ada orang sakitnya kan. Jadi bebas deh.. speedboat ini mau ngapain... kami kuat kok.. banting bantinglah hiks :”


            Lalu sampai di dermaga Sebatik Barat, kami sudah di tunggu Mas Islan supir Ambulance puskesmas kami. kami kembali pulang menjalanai perjalanan yang kece pemandangannnya. Hujan cukup deras, kabut datang. dan beberapa titik jalan tebing kami lalui perlahan, bahkan dibeberapa titik hari sudah tertutupi kabut.. malah bisa dibilang awan yang menutupi.. karenaposisi kami memang tinggi. Benar benar putih. yaa kabut. Atau awan. A kalau di sumatera ini bisa dikira kabut asap nih :”)



”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah Shallallahualaihiwassalam menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia lainnya”. (HR. Thabrani)

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerana diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang

Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran (Imam Syafi’i)