Pagi ini aku agak kaget. Gak biasanya. Kemarin
pasien perawatan hanya tinggal 2 orang. Sekarang.. di meja dokter udah ada 5
status pasien berderet. “Wah.. banyak pasien kah kak?” tanyaku. “Iyadek,
kemarin borong ni pasien datang ramai..” jawab kak Nur, salah satu bidan di
Puskesmas tempatku bertugas.
Puskesmas Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan
Utara ini memang memiliki UGD 24 jam dan ruang rawat inap, serta ruang rawat
bagi nifas. Tempat tidur ada 6 dalam 2 ruangan. sedangkan ruang nifas bagi ibu
baru hamil adalah sebelah ruang VK (ruang bersalin). Salah satu dari 5 pasien
tersebut berstatus cukup urgent, “Harus di rujuk..” kata dr.Eka.
Pasien tersebut mengalami kejang
berulang-ulang.. setiap kejang bisa sampai 10 menit. Sebelumnya sebelum pukul 7
pasien mengalami kejang, lalu dokter visit pukul 8, kondisi pasien bisa ikut
perintah, namun tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan. Pandangannya masi
sering kosong. Pasien berusia 19 tahun. Ini bukan kejang deman seperti
anak-anak yah, hehe. Dan ibu pasien malah mengatakan, sejak kecil si pasien
tidak pernah sama-sekali kejang. “Pasien harus dirujuk, saya curiganya,
Makcik.. pasien ini kejang karena kurang oksigen dalam otak, atau karena demamnya,
takutnya makcik.. ini jadi radang otak kalau terus-terusan kejang. Harus cepat
dirujuk Makcik.. bahaya kalau kita lambat merujuk..” tukas dr.Eka.
Ibu pasien terlihat sedih, “Hm
yelah..yelah.. kita telpon dulu ayahnya. Mana tau mau kita rujuk ke Tawau
kan..” ucap si ibu pasien. Aku langsung lirik Kak Kahar.. beliau senyum, seakan
tau apa yang aku pikirkan.. merujuk ke Tawau Hospital.. Ya. Aku memang
penasaran ingin merujuk kesana. Ingin tau banyak tentang rumah sakit yang ada
di Malaysia. Kapan lagi kan, bantu pasien sambil lihat negara tetangga.. tanpa
pasport lagi, hehe. Karena kami ada surat jalan, bahwa akan merujuk ke Tawau.
Keluarga pasien wilayah Sebatik
Tengah, cukup jarang ada yang pilih rujuk ke Tawau. Selain karena alasan dana.
Padahal, rujuk ke Tawau lebih dekat daripada rujuk ke rumah sakit daerah
kabupaten.. ke Nunukan. Sama.. sama-sama pakai speedboat menuju kesana. Bedanya.. bagi pasien yang pilih rujuk ke
Tawau Hospital.. mereka pasti memiliki saudara di Tawau, yang memiliki kartu ID
khusus untuk masyarakat Malaysia, jadi harga lebih murah. Ohya, di Tawau gak
berlaku BPJS yah.hehe. kalau pasien yang pilih rujuk ke RSUD Nunukan adalah
pasien yang memiliki kartu jaminan atau BPJS.
“Siap-siaplah Rinta.. kau ganti
pakai seragam putih.. kau berangkat sama Sarinah. Kau jago kan Bahasa Inggris?
Di Hospital orang pakai bahasa Inggris semua..” ucap Kak Kahar.
“Asik. Oke kak. Kak Sarinah ndak
ganti seragam putih juga?” tanyaku ke Kak Sarinah.
“Ndaklah... kau aja yang pakai
seraga putih.. nanti kau yang masuk ruangan, overan sama nurse disana..” ucap
Kak Kahar dengan gaya khasnya.
“Kak.. aku kan anak baru..
teganyaa..” ucapku lalu pulang kerumah untuk salin pakai seragam putih-putih.
rumah dinas tim nusantara sehat hanya berjarak tiga rumah saja. Jalan kaki 3
menit, sudah sampai kerumah.
***
Kami sudah sampai di Somel. Disini
salah satu tempat pemberhentian kapal menuju Tawau. Selama perjalanan darat
dengan ambulance puskesmas, cukup buat heboh warga sekitar. Sirene di hidupkan
Kak Kahar. Kak Kahar si penanggung jawab rawat inap UGD ini akhirnya mau jadi
driver sementara, karena pasiennya urgent. Tadi aja pasien kejang lagi hampir
10 menit. Sirena ambulance di hidupkan
kak Kahar. Semua anak-anak, orang tua yang rumahnya dipinggir jalan,keluar
rumah. Bayangkan, keluar rumah.. hanya untuk melihat mobil yang sirenenya
menggelegar itu. hahaha
![]() |
| dok.pribadi. Di Malaysia juga banyak 'Teksi' |
Oke kembali. Disana speedboat sudah
menunggu. Speedboat memang sudah dipesan oleh Kak Kahar via telpon. Wilayah
Somel adalah wilayah paling perbatasan Indonesia-Malaysia. Malah ada ‘wisata
perbatasan somel’ yang merupakan wisata ‘tandapetik’ disana, maksudnya?ya ituuu
wisata ‘tandapetik’.hehe. warga, terutama anak-anak ramai membututi kami dari
belakang. Mereka kepo banget, sama pasien yang ada di atas tandu. Yak, pasien
lemah. Kali ini boatnya cukup lumayan
besar daripada speedboat ke Nunukan kala itu.
Untuk harga speedboat dari Somel ke
Tawau pulang-pergi adalah sebesar 100 Ringgit Malaysia (RM) atau sebesar Rp.350
ribu. Keluarga pasien yang ikut ke Tawau
ada dua orang, yakni ayah dan ibu pasien. Sedangkan dari Puskesmas ada 3 orang,
aku, kak Sarinah (perawat Pkm), dan Yolla (salah satu tim NS ku, profesi tenaga
kesehatan Lingkungan), iya pingin tau merujuk, hehe.
Keadaan laut cukup tenang. Eh, kami
di samudera loh. Dan memang ombak menuju Tawau terkenal kencang. Speedboat berlayar cepat, malah dalam
kemiringan 45 derajat. Bayangkan, lalu ada ombak mengempas, speedboat
terbanting, terbanting lagi, sampai pasien pun badannya ikut terbanting.
Sesekali Kak Sarina teriak agar nahkoda tak terlalu kencang, kasien pasien.
Namun namanya Speedboat memang selalu kencang.
Sekitar 20 menit kami berada di
tengah laut, terombang ambing, dihempas, di banting ombak. Cukup pusing
kepalaku. Namun harus menegakkan kepala, demi sampainya pasien di Tawau
Hospital. Boat kami tak langsung sampai di dermaga. Kami di over lagi.. karena
perbatasan kapal Indonesia-Malaysia. Kami dijemput oleh rekanan nahkoda
itu.. ada perahu milik warga Malaysia
menjemput kami. “Antar orang sakit!” teriak pengemudi speedboat kami. “Yelah..
naik.. naik.. “ ucap pengemudi perahu pada kami dengan logat khas. Hanya 5
menit, kami sampai di pelabuhan. Yak, pelabuhan di Tawau, negara Malaysia.
Sampai disana, keluarga pasien yang
ada di Tawau sudah menunggu. Kami langsung gegas menuju Tawau Hospital. Aku
memanfaatkan kesempatan.. melihat kanan-kiri, melihat suasana negara tetangga,
mumpung ada di Malaysia hehe. Kadang aku senyum sendiri melihat bahasa yang
digunakan di Malaysia, unik bahasanya. Ada tulisan banner iklan “Internet untuk
Kenikmatan, Jom Berinspirasi”, ada juga tulisan iklan.. “Dahagakan
Cabaran!Koleksi Tin Bola Sepak..” dan lain-lain. Bahasa Indonesia dan Malaysia
memiliki perbedaan tatanan, dan itu yang buat unik.
![]() |
| dok.pribadi. foto setelah pasien di overkan ke nurse hospital. di depan Jabatan Kecemasan (Instalasi Gawat Darurat) |
Sampailah kami di Tawau Hospital.
Waaah, cukup luas, besar, parkirannnya luas.. terlihat tulisan.. “Jabatan
Kecemasan”, eh apaan tuh? Disanalah kami parkir dan menurunkan pasien. Yak, itu
adalah ruang IGD nya Tawau Hospital. Jabatan Kecemasan itu kalau dalam bahasa
Indonesia adalah Instalasi Gawat Darurat. Kami disambut dengan perawat
laki-laki berbadan besar, wajah ke indiaan, dengan seragam merah maroon, khas
IGD. Kami ditanya surat tugasnya, kak Sarinah memberikan suratnya, lalu pasien
dibawa ke dalam ‘Jabatan Kecemasan’. Pasien dimasukkan ke ruangan “Zon Kuning’.
Yak, ruangan yang memiliki pintu warna kuning, dan pintu hanya bisa dibuka
dengan sensor ID card tenaga medis yang ada di pinggir pintu, atau kode
Hospital yang hanya diketahui tenaga medis sana. Boleh juga, menurutku hal ini
efektif untuk mengurangi mondar-mandirnya keluarga pasien.
![]() |
| dok.pribadi. pulaaang naik perahu... kemudian lanjut speedboat :") |
Sayangnya Igd rapi dan tertutup itu
sudah ada peringatan besar-besar untuk tak boleh memotret atau memvidiokan.
Padahal pasien sama sekali tak terlihat. Memasuki jabatan kecemasan, membuat
fikiranku melayang.. membandingkan IGD RS tempatku bekerja dulu, wuuh
bedanyaaa. Memasuki ruang IGD nya Malaysia ini.. ah pokoknya kelas
internasional deh. Bersih.. tertata. Di RS tempatku sebelumnya, ruang triase
hanyalah papan anam diatas. Tapi tak ada klasifikasi tempat zona hijau. Merah,
kuning, atau hitam kah. Kalau di hospital ini langsung ada ruangan tiap
zonanya.. zona merah masuk ke kanan, dan tertutup dengan pintu warna merah.
Zona kuning ada pas di depan pintu masuk IGD, dan zona hijau ada di kiri
ruangan. disana juga banyak pasien yang mengantri untuk pemeriksaan (poli),
pasien-pasien yang mengantri ini masuk zona hijau. Disana ada dokter, perawat
yang memeriksa.
Nah jika telah diperiksa di zona
hijau, lalu pasien dinyatakan harus di rawat, pasien ini akan segera pindah ke
zona kuning, disana pasien akan diberi perawatan selayaknya di zona itu. semua
tertata rapi.. ruang administrasi di sana,
ruang perawat disini. Ada lorongnya.. aku juga melihat cleaning service
hospital ini.. waah APD nya oke deh. Mereka pakai jubah plastik, sepatu,
handscoon. Pikir kalau di RS tempatku dulu.. wah sama sekali gak pakai APD.
Padahal tugas sebagai cleaning service cukup beresiko. Ohya, ternyata.. pasien
umum orang Malaysia, ketika akan dirawat.. harus punya dana dulu sebesar
600-800 ringgit. Baru boleh masuk berobat. Sedangkan orang luar Malaysia,
seperti orang Indonesia jika ingin dirawat, pasien harus memiliku uang sebesar
1100-1200 Ringgit Malaysia. 1 ringgit: Rp. 3500). Namun jika warga Malaysia
punya kartu jaminan, harganya bisa sangat murah untuk mendapatkan pengobatan.
Kami selesai antar pasien. Keluarga
pasien yang tadi jemput kami di pelabuhan, mengantar kami kembali. Kami minta
diturunkan di sebuah toko yang dekat dengan pelabuhan. Disana harga buah sangat
murah, maksudnya lebih murah dari harga jual di sebatik. Selain itu makanan
seperti sosis nugget, disini juga lebuh murah, beruntung aku dan Yolla punya
persediaan uang ringgit. Hehe. Kami beli ini itu sesuai kebutuhan kami,
maklum.. kan sudah punya kulkas, hehe.
Kami di pelabuhan. Naik perahu si
pakcik yang jemput kami tadi. Lalu ia mengantar kami ke perbatasan itu, tempat
perahu dan speedboat orang Indoensua bersandar. Kami melihat.. wah mana ini..
speedboat kami tadi gak ada. mapah ada yang bilang sudah pulang. Kak Sarinah
ikut kesal, karena uang ongkos kapal sudah di berikan ke nahkoda speedboat,
seharusnya uang ongkos diberikan saat sudah kembali lagi ke Sebatik. Ini
resikonya,, huaa.. gimana iniii. Akhirnya kami naik saja ke kapal besar itu. sambil
menunggu. Kami menghubungi Kak Kahar. Namun kartu kami semua roaming. Aku coba
sms kak Kahar, dan bilang.. telpon balik, karena speedboatnya meninggalkan kami. sms aku kirim.. lalu cek
pulsa. Taraaaaa! Pulsa ku hilang 6 ribu brooo :”). Dan pulsa tinggal seribu.
Lalu Kak Kahar telpon kami, dan aku ga bisa angkat. Pasti mati lagi telponnya.
Iyalah.. pulasaku kan tinggal seribu, mana bisa di sedot sama roaming. Haha.
Tak lama, ada orang yang
teriak..”Ada operasi!” lalu semua berlarian, dan kapal besar itu jadi hening. Kontan kami ikut suasana dong.
Ikutan nyumput dan berpikir.. gimana kalau ketangkep dan dituduh selundupan?
Huaaa. Eh tapi kami punya surat jalan, surat inilah yang akan ditunjukan ke
polis Malaysia itu.
Setengah jam kemudian speedboat kami
datang. kami kecewa, boatnya gak setia. buktinya si nahkoda ambil klien baru.
Penumpang yang akan pindah rumah mungkin. karena barangnya itu banyaaak banget.
Kami bertiga gak cukup ada disana. Akhirnya ada satu speed temannya speed kami
yang berkhianat itu, hehe. Kami naik ke speedboatnya..
dan berada di bawah matahari sore yang terik. Selama 20 menit kami ditengah
laut. Terombang ambing dan di banting ombak. Lalu kami sampai kembali ke
Sebatik Utara itu.. wialayah Somel. Alhamdulillah. Terlihat kak Kahar dengan
mobil putih bak belakang. Beliau pakai baju biru lengan pendek dan celana
pendek, keringatan, bukan karena olahraga, tapi karena angkatin barang ke bak
mobilnya. Banyak banget barang ber kardus dan di dalam karung, ia menatanya,
mengikatnya sampai keringatnya bercucuran. “Inilah pekerjaanku kalau sore..
mana pernah ku tidur siang. Tapi perut gendut juga.. nah liat tangan ini, mana
bisa halus.. angkat beban terus..” ucap Kak Kahar santai dengan gaya khasnya.
![]() |
| dok.pribadi. belanjaaa, mumpung di Malaysia. beli kebutuhan dapur, mumpung murah.. hehe siap siap Ringgit! :) |
Kadang salut juga sama Kak Kahar,
tetap kerja banting tulang, padahal ia sudah PNS disini... memang gaji sebagai
PNS gak cukup untuk biaya kehidupan keluarga, istri, sekolah anak-anak, dll.
Maka gak heran ada yang bilang sebagai PNS gaji selalu pas kurangnya. Dan
banyak kejadian bahwa walaupun PNS, rata-rata memiliki pekerjaan sampingan,
ntah berdagang atau apapun. Well bekerjalah, carilah hasil, keberkahan dan
rezeki sebanyaknya di bumi Allah, secara halal dan bahagia. Kak Sarinah diantar
sampai depan rumah, karena tak jauh dari pelabuhan rumahnya. Sedangkan kami
diantar sampai persimpanagan puskesmas. “Jalan sikit yah.. ndak enaklah aku ke
Puskesmas sambil bawa barang banyak ni.. ini mau diantar ke desa Sei Pancang..
mau diantar ke yang punya..” ucap Kak Kahar, kami turun. Jalan sedikit gak masalah
kok, dekeet. “Makasih Kak Kahar!” ucap aku dan Yolla, sambil bawa barang
belanjaan. “Eh kita ini habis shopping dari luar negeri yah?” tanyaku sama
Yolla sambil tertawa :)
Well, kalo bukan melalui Nusantara Sehat, mungkin aku gak bakal dapat kesempatan begini seru. merujuk pasien sampai ke negeri seberang :)
Puskesmas
Aji Kuning, 23 Januari 2016
Sebatik
Tengah, Kalimantan Utara –Indonesia-









Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah menbaca tulisan saya, silakan tinggalkan komentar mari bersilaturahim :)