Senin, 09 Januari 2017

TRIP DAY 1 :Terpesona Pandangan Pertama di Pulau Derawan


dok. pribadi. kapal yang membawa kami menuju pulau derawan

TRIP 16-18 Desember 2016.

            LIBURAN. Hal ini menjadi sesuatu yang aku tunggu secara pribadi dan bagi semua orang. Liburan.. keluar dari rutinitas, dan melaksanakan kegiatan yang menyenangkan, memberikan vitamin bagi mata akan pemandangan Alam ciptaan Allah. Jumat, 16 Desember 2016 sesuai jadwal kami akan melakukan trip ke kepulauan Derawan Kalimantan Timur. Tidak hanya itu saja, kami juga akan menjelajahi beberapa pulau. Tak terbayang serunya akan seperti apa.
            Jadi sejak pagi pukul 7 kami sudah berangkat melakukan perjalanan darat menuju Mantikas. Sebuah daerah tempat berlabuhnya kapal, speedboat sebagai alat transportasi menuju pulau lainnya. Karena kami berada di kepulauan. Nah, satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di Mantikas. Menggunakan taksi (mobil pribadi) yang dijadikan alat angkutan. Perorang dikenakan tarif Rp. 50 Ribu. Sampai sana, kami menunggu agency trip liburan menjemput kami. Speed yang kami naiki berukuran sedang. Biasanya bisa di tumpangi oleh 25 orang. Namun karena yang mengikuti Trip hanya berjumlah belasan, jadi kami dapat bonus: kelegaan dalam duduk dan menikmati perjalanan. Hehe
dok. pribadi. Alhamdulillah sampai di Pulau Derawan nan indoah. im fallin In Love here

            Ombak bergelombang. Kami di hempas-hempas. Namun speed mesin yang kami tumpangi cukup tangguh untuk tetap maju. Walau tak heran penumpang didalamnya memang dibanting-banting karena kolaborasi gelombang dan angin. Lautan saat itu memiliki warna sama: coklat. YA. ntah mengapa perairan di sekitar Kalimantan Utara air lautnya berwarna keruh, coklat. Maka tak heran untuk wisata laut masih kurang. Walau begitu deburan ombak dan cerahnya angin tetap menyenangkan hati kami. 3 jam perjalanan menuju Kota Tarakan. Kami akan transit sejenak. Karena akan sholat jumat dahulu para lelakinya. Kemudian pukul 2 siang kami lanjut lagi perjalanan menuju pulau Derawan.
            Makin dijalan.. aku mendapati perubahan warna air. YA.. mungkin sudah memasuki kawasan Kalimantan Timur. Warna laut menjadi lebih biru. Dan biru tua.. menandakan kedalaman lautnya. Jika pembaca membayangkan pulau Kalimantan, yang agak mirip dengan rupa wajah orang dari samping.. maka kita dapat membayangkan lokasinya. Dari Pulau Sebatik (tempatku) menuju Pulau Derawan. Itu jaraknya seolah-olah Pulau Sebatik berada di mata Pulau Kalimantan. Sedangkan Pulau Derawan berada tepat di depan hidungnya Pulau Kalimantan. Ya, kepulauan yang banyak. Namun berjarak. Dan memiliki keindahan sendiri-sendiri.
            Jadi perjalanan kami memakan waktu sekitar 6 jam. Dari Sebatik-Derawan belum termasuk waktu transit yaa. Sebenarnya waktu perjalanan tergantung pengemudi nahkoda yang membawa kami kesana. Dan tergantung gelombang laut juga. Kalau kami kemarin, gelombang air masih bisa dikendalikan. Alias tak terlalu besar, dan dapat diatasu. Menjelang sampai di Pulau Derawan, kita bisa lihat warna air yang biru tua dan biru muda.. yang terpenting, airnya jernih sekali, hingga isi daratanpun terlihat dengan mata telanjang. Tembus hingga bawah. Keindahan yang luarbiasa. Di sisi lain.. banyaknya cottage yang berjajar di pinggir pulau. Cottagenya pun sebagian berada di atas air laut yang agak lebih dangkal. Ini menjadi pesona dan pilihan tersendiri bagi turis dalam dan luar negeri untuk kesini. Cottage diatas Laut misalnya.. itu lebih di minati. Namun dengan harga yang sesuai pula. Baru datang, kami sudah disuguhi keindahan ini. Jujur, aku langsung jatuh hati di tempat ini!!
dok. pribadi. Alhamdulillah sampaai

            Disamping-samping cottage juga ada rumah warga yang tinggal disana. Warga ramah-ramah. Sebagian warga yang tinggal di daerah itu juga turut menjadi karyawan atau pembuat makanan untuk para tamu yang menginap di cottage. Atau bisa jadi kepala rumah tangganya seorang nahkoda speed maupun guide untuk turis asing. Sampai di Derawan puku 17.00 WITA. Kami menaruh pakaian terlebih dahulu di dalam cottage. Kebetulan kami memilih cottage di atas laut. Cottage dengan fasilitas lengkap dan cukup memuaskan. Permalam seharga Rp. 500 ribu. Namun itu sudah dihitung keseluruhan oleh Trip yang membawa kami. Jadi kami tinggal masuk dan bersantai di dalam ruangan.
            Nah, sore itu kami tidak menyiakan. Walau lelah sih. Tapi moso mau tidur dengan pemandangan seindah iniiiii. Jadi selesai sholat Ashar, kami berfoto dipinggiran penginapan. Lalu berenang di lautan pinggiran tangga. Airnya bening sekali, bersih, dan jernih. Dasar laut pun bisa kami nikmati dari atas, nah saat itu kami ditawari untuk naik Banana Boat! Wuaaah. Kebetulan. Aku pikir tak ada permainan Banana boat disini hehe. 
dok. pribadi. cobain banana boatnya niih


            Kalo fasilitas permainan, ini ditanggung masing-masing peserta yang ingin main. Kami diajak dan aku senangg. Banana boat ini akan memutari Pulau Derawan.  Seharga Rp. 200 ribu untuk permainan ini. Permainan ini bisa ditumpangi oleh 6 orang. Jadi kalau dihitung-hitung, ga masalah deh, kan bayarnya gotong royong sama yang lain. YAAK. Sore itu kami menikmati gelombang laut yang makin meninggi kemudian anginnya dan airnya yang membiru. Tidak terasa Banana Boat ini sudah mengitari Pulau Derawan. Tidak seperti permainan Banana Boat ditempat lain, yang biasanya setelah permainan para peserta akan di tumpahkan di lautan. Namun ini, tidak Bapaknya baik.. kami ga ditumpahkan hehe. Kami disandarkan dengan baik hingga tangga naik keatas.hehe
            Malamnya kami istirahat. Sebagian ada yang duduk menikmati rembulan, asebagian lagi ada yang jalan-jalan keliling derawan. Nah kami salah satunya yang menikmati derawan malam hari. Menyewa sepeda. Sepeda di sewa seharga 20-50 ribu/ 3jam. Harga disesuaikan dengan jenis sepeda yang dipakai. Kami ke Puskesmas Pulau Derawan. Bertemu sejawat Nusantara Sehat 3 yang mendapat penempatan Pulau Derawan. Kemudian membeli sedikit oleh-oleh yang berada di Pulau. Nyicil belinya hehe. Berjejer juga disini pernak-pernik khas Derawan. Harganya memang rada lebih mahal dari tempat lain. Kalau sekedar gantungan kunci atau lainnya, mungkin karena akses tempat pembuatan pernak pernik yang cukup jauh kali ya. ohya ada juga disini cincin/gelang/kalung liontin dengan sisik/kulit penyu. Kian malam, kami selesai pinjam sepeda, dan pulang ke penginapan.. mempersiapkan tenaga untuk hari esok. Kami akan jelajah pulau. Dan pasti keseruan akan makiiiin seruuuu. Hehe. Doakan Lancaaar :D



dok. pribadi. sunset di Derawan

Jumat, 16 Desember 2016

Minggu, 01 Januari 2017

Ya Allah, Kenapa Harus Jilbab Syar'i?


01 Januari 2016

            PAGI ini saat sedang jaga UGD aku di BBM salah seorang teman semasa kuliah dulu. Agak heran, kok tumben. Biasanya banyak teman yang lama dan kemudian menghubungiku lagi karena ingin tanya-tanya tentang Nusantara Sehat, karena ingin mendaftar juga. Kali ini pertanyaannya beda. Dia tanya tentang Jilbab. Dia ingin tau ceritaku, bagaimana bisa memutuskan memakai jilbab yang besar (lumayan syar’i) hehe.
            Karena ia merasa, bahwa memakai jilbab pertama kali adalah dia. Tapi kenapa seorang Rinta yang memakai jilbab lebih baru, justru sudah memutuskan memakai jilbab Syar’i ?? seakan si Rinta lah yang pakai jilbab lebih dulu. Teman ku ini sebut saja namanya Nia (bukan nama samaran). Mengenakan jilbab sejak pertama masuk kuliah. Sedangkan seorang Rinta.. pakai jilbab saat semester 2 kuliah. Tepatnya setelah peresmian pakai seragam putih-putih di keperawatan (Capping Day).
            Jadi namanya orang yang baru pakai jilbab kan ya... jadi masih pakai jilbab yang pendek dulu. Masih pakai celana jeans. Masih jilbab yang tembus pandang. Tipisss. Sampai akhirnya waktu berlalu. Semasa aku baru mengenakan jilbab aku juga ikut kajian di masjid kampus. Entah itu sama kakak kelas (liqo) atau sama Ummi dari instansi lain (liqo) juga. Semua kajian yang aku ikuti jelas untuk menganjurkan mengenakan jilbab sesuai syariat islam. Tapi namanya kajian kan ya.. dan yang mendengar juga anak muda.. jadi kadang yang disampaikan itu hanya sekedar lewat. Ndak juga ada perubahan di diri ini. Belum. Sampai akhirnya proses.. proses itu berjalan.
            Mulai aku rutin pakai kaos kaki kemana-mana. Tapi masih pakai jilbab biasa. Yang dililit itu, jeans juga masih pakai. Ketat. Tapi aku selalu pakai kaos atau atasan yang menutupi pinggul kebawah.  Teman-teman se-per-liqo-an pun sama, berproses seperti itu. Memang ada teman yang sudah mulai berubah pakaiannya. Jilbabnya jadi tidak dililit lagi,jadi di urai.. dsb..

            Kemudian aku mengikuti salah satu organisasi kepenulisan. Sesuai hobiku. Forum Lingkar Pena. Di Forum Lingkar Pena ini.. sebagian besar, malah hampir keseluruhan anggota yang perempuan memakai pakaian Syar’i. Semua Syar’i. Laki-lakinya pun sesuai sunnah Rosul semua dari cara berpakaiannya. Saat itu aku ingat hanya beberapa yang masih pakai jilbab dan pakaian tidak syar’i. Kami sering bercengkrama.. mengikuti kelas menulis.. bahkan setelah selesai sholat berjamaah dengan anggota FLP, obrolan yang mereka bahas adalah harga-harga jilbab Syar’i. Tidak membicarakan hal-hal kosong yang tanpa sadar jadi pancing dosa. Mereka membicarakan hal yang berbeda. Kemudian aku sambil memperhatikan mereka.. cara berpakaiannya..
            Tiap bulan kami ada pertemuan. Kelas menulis juga. Nah makin kesini aku merasa minder sendiri nih dengan penampilanku yang berbeda. Padahal mereka gak ada yang menggubris penampilanku yang tak syar’i. Lambat laun.. aku lebih sering mengenakan rok daripada celana.. saat bersama mereka.. kemudian jilbab yang tadinya aku lilit kebelakang.. kini aku urai kedepan menutupi dada. Lalu lama-lama jika aku mencoba pakai jilbab yang dua lapis.. agar tak tembus panjang dan bisa menjadi besar. Perubahan aku pelan-pelan itu disambut baik oleh mereka. “Alhamdulillah Rinta.., semoga istiqomah ya dek..” tutur mereka. Nah tadinya penampilan aku seperti diatas adalah saat berkumpul dengan FLP Lampung saja. Saat ada kelas menulis saja. Saati diluar. Atau sama teman lain penampilanku kembali biasa lagi yang ala kadarnya itu.
            Sampai suatu ketika aku berpikir begini.... “Nanti kalau ketemu salah satu anggota FLP Lampung.. di luar.. terus mereka melihat penampilanku yang beda.. pasti aku malu banget...” ungkapku dalam hati. Lalu aku mulai berubah mengenakan rok dan jilbab yang cukup lebar. Mulai dari situ sih. Walaupun salah kalau aku malunya saat itu sama anggota FLP. Seharusnya aku malu sama Allah ya.. Malu. Karena udah dikasih banyak nikmat.. kok nurutin perintah-NYA dengan berjilbab syar’i aja susah! Padahal fungsinya juga untuk melindungi loh! Namun ndak apa.. mungkin itu adalah perantara.. FLP sebagai perantara perubahanku.. hijrahku.. setelah itu.. ketika pakaian mulai Syar’i.... kok sikap juga harus berubah ya? pikirku begitu. “Ya malu dong.. masa berjilbab syar’i tapi pergaulannya gak di batasin.. Ya malu dong.. masa jilbab Syar’i punya pacar??” itu pemikiranku. Dan memang itu berdampak juga dengan sikapku.. cara bergaul ku.. karena pakaian yang sudah seperti ini. Maka ga habis pikir deh sama orang yang bilang.. “Jilbabin hati dulu.. baru jilbabin kepala...” lah atuh menurutku sebaliknya.. jilbabin dulu kepalamu.. nanti sikap juga jadi berubah karena itu : )

            Coba duluu saat aku sedang jalan kaki.. tanpa jilbab, atau dengan jilbab yang pendek.. celana jeans yang ketat..  ada aja lelaki yang godain.. “Cewe.. mau kemanaa..?”. lalu saat aku sudah mengenakan jilbab Syar’i.. godainnya jadi berubah.. “Assalamualaikum ibu haji...” iya kan? Tinggal jawab dalam hati, lalu Aamiin-kan doanya. Siapa tau terwujud? :D
            Keluargaku bukanlah keluarga yang agamis. Jadi ketika aku berubah.. perubahan pakai rok longgar, pakai jilbab besar.. orangtua ku sempat pangling sama anaknya.. “Kok kamu jadi begini? Ikut aliran apa sih, Nak??” . atau kata adik ku yang bilang.. “Duh lo kaya emak-emak deh. Mau ke supermarket aja bajunya kaya gitu..”. Sakit sebenernya.. wkwk..jelasin aja pelan-pelan. “lagi belajar jadi lebih baik, Ma..” jawab gitu. Atau jawab adik dengan.. “Ya biarin sih.. kan ntar juga jadi emak-emak...” jawab begitu ke adik yang songong. Wkwk.
            Jadi intinya.. PERGAULAN. Pergaulan yang membuat kita berproses lebih baik. Ketika kamu berada di lingkaran orang-orang yang taat pada-Nya dan berpakaian sesuai syariatNYA, niscaya kamu akan mengikuti mereka. Sedangkan ketika kamu bergaul dengan orang-orang yang tidak taat dan masa bodoh dengan aturanNYA.. maka akan begitulah kamu : )

            Alhamdulillah, aku memiliki banyak teman dengan berbagai karakter. Termasuk teman-teman yang tidak pakai pakaian syar’i. Ndak apa kok berteman memang harus dengan orang yang mengerti kita. Apalagi teman lama kan. Namun alangkah baiknya memiliki teman melingkar dalam belajar mengenai agama islam. Sering interaksi dengan mereka. Banyak belajar. Toh kini makin dewasa. Kita yang memilih apa yang terbaik untuk diri kita. Bukankah jika kita berteman dengan penjual parfum, kita akan kena wanginya? Sedangkan jika berteman dengan tukang besi, kita yang kena percikan panas besinya?
            Lalu kata Rosul pun.. jika kita ingin mengetahui kepribadian seseorang.. maka lihatlah teman-temannya. Lihat ia bergaul dengan siapa... niscaya itu sudah cukup menunjukkan sikap dan kebiasaan seseorang itu.. dan kenapa masih ragu? Bukankah perintah berjilbab syar’i memang sudah tertuang di Al-Quran. Tidak main-main, langsung Wahyu dari Allah SWT sendiri. Masih ragu?? Nikmat Allah begitu banyak kawan. Turutilah perintah-Nya :) 
.
Ya Allah, kenapa harus jilbab Syar'i?
Karena kita diciptakan dari Allah untuk beribadah pada Allah.. :)

Artinya: Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 59)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An Nur: 31)

“Dari Aisyah r.a.: Sesungguhnya Asma’i binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah SAW dan dipakainya pakaian yang tipis, maka Rasulullah SAW menyegahnya dan berkata:  Wahai Asma’i, sesungguhnya wanita itu bila sudah datang masa haid tidak pantas terlihat tubuhnya kecuali ini dan ini. Beliau sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangannya.” (H.R. Abu Dawud dari Aisyah r.a.)


Wassalam
Semoga bermanfaat : )

Sabtu, 19 November 2016

BELKAGA 2016: Masyarakat Sebatik Tengah Bebas Kaki Gajah





            BULAN ELIMINASI KAKI GAJAH 2016.  Ini kali perdana ku mengikuti Bulan eliminasi Kaki Gajah. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang digadang pemerintah menjadi sarana penyebaran program pemerintah ini. Oktober 2016. Kami sangat mendukung program ini, tentu. Karena ini adalah program pemerintah dan kemanfaatannya pun untuk masyarakat Indonesia dalam upaya mengeliminasi junlah kesakitan akibat cacing filaria ini. Kaki gajah yang ditularkan oleh nyamuk sebenarnya angka kejadian di kecamatan Sebatik Tengah cukup kecil. Namun beberapa waktu lalu memang ditemukan beberapa warga yang mengidap kaki gajah. Kembali pada lokasi regional kami, yakni di pulau Kalimantan. Dimana banyak hutan dan perkebunan. Belum lagi sungai-sungai, rawa dan daerah kelautan menjadi tempat nyamuk pembawa cacing filaria ini.
            Kaki gajah ini diminum satu tahun sekali sebagai pencegahan. Dan tiap orang yang sudah memulai minum obat ini diharapkan minum obat rutin di tahun-tahun berikutnya sampai 5 tahun mendatang. Ya, obat Filariasis ini diminum 5 kali seumur hidup agar tuntas mencegah masuknya penyakin Kaki Gajah.
            Pagi itu di SDN 01 Aji Kuning kami meminta izin terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah. Perawat pemegang program imunisasi, dokter gigi, serta aku dan temanku nusantara sehat yang ikut mendatangi sekolah ini. Sebelumnya anak-anak sudah diminta sarapan lebih dulu di rumah sebagai syarat minum obat filariasis ini. Kami mulai dari kelas 1 SD. Anak-anak sedang dalam pembelajaran. Lalu guru mempersilahkan kami untuk masuk ke ruang kelas. Terlihat anak-anak menatap kami, ada yang ketakutan, karena teringat musim imunisasi anak sekolah. Tatkala kami menyuntik mereka dengan cinta untuk suntik campak dan tetanus dypteri.
            Lalu saat kami mengeluarkan obat “Tidak di suntik bah.. liat he.. minum obat saja..” tutur beberapa anak. Lalu kami mengeluarkan obat-obatan itu.. memisahkan Albendazole 1 butir dan 2 butir Diethylcarbamazine. Kapsulnya besar sekali. Aku juga merasa gak mampu untuk makan kapsul sebesar itu. Jadi kapsul kami ambil, lalu air putih kami berikan kepada mereka. Mereka mencoba memakannya. Dan..................... susah banget di telan! Serius setengah sengsara liatnya. Kasian banget deh. Mereka kesulitan menelan.
            Beberapa anak gagal menelan kapsul obat itu. Namun sebagian cukup bisa menelan obatnya. Beberapa anak kelas 1 ga tahan makannya. Hingga ada yang menangis. Lalu kami berikan obat-obat itu sambil dipesankan ke anaknya agar bilang ke ibunya untuk diminumkan obat Filariasis. Lalu di kelas selanjutnya kami ga boleh gagal. Target harus minum semua sekarang. Haruuus!
tinggal taruh di sendok, kasih sedikit air. dan suap deh obatnya :)
            Lalu di kelas 1B kami berinisiatip untuk menggerus semua obat. Sesuai dosis. Kami gerus obat, walau dengan susah payah. Dengan sendok yang ada. Lalu kami berikan sedikit air, lalu anak-anak itu meminum obat yang sudah di gerus itu. Kemudian minum air putih nya. Alhamdulillah inisiatip ini mengubah yang tadinya payah jadi mudah. Kini keseluruhan anak-anak SD ini minum obat filariasisnya. Alhamdulillah jadi terpenuhi upaya pemberian obat untuk mengeliminasi kejadian kaki gajah. Hehe :D
dok. pribadi. jadi tukang gerus obat mendadak :")
            Beberapa kelas, kelas-kelas awal kami berikan  kue berkrim supaya jadi manis. Ga terlalu pait lagi. Jadi mereka juga senang. Namun di kelas-kelas tinggi tidak kami berikan kue lagi sengan alasan sudah besar dan stok kue habis. Wkwk.
dok. pribadi. setelah minum obat filariasis, adik ini bahagia lagi :)

DI POSYANDU
            Masih dibulan Oktober 2016. Rangka Bulan Eliminasi Kaki Gajah. Kali ini diedarkan di Posyandu. Di Desa Maspul. Nah disini pemberian obat filariasis diberikan pada ibu-bapak yang datang ke posyandu untuk memeriksakan anak-anaknya. Atau yang berkunjung untuk berobat. Bagi yang sudah sarapan, dianjurkan untuk meminum obat filariasis in langsung di tempat. Sedangkan yang belum, akan dibungkuskan obat untuk si ibu/bapak sekalian keluarganya juga. Memang beda deh kalau orang dewasa yang minum. Kebanyakan telan sekali 4 butir obatnya. Yaa tertelan juga. Huaaa. Selebihnya, Kader lah yang akan berkeliling. Memberikan obat-obatan filariasis. Dibagikan sesuai dosis. Untuk anak usia 2 tahun keatas dosisnya adalah Albendazole 1 butir dan 1 butir Diethylcarbamazine. Anak usia 5 tahunan keatas mendapat dosis 1 Albendazole dan 2 butir Diethylcarbamazine.  Sedangkan usia dewasa mendapat dosis 1 butir Albendazole dan 3 butir Diethylcarbamazine. Semua diminum setelah makan. Dan lebih bagus lagi jika diminum jelang tidur malam. Karena efeknya adalah sedikit pusing.
dok. pribadi. kalau orang dewasa mudah aja nih minum obatnya :)


DI SDN 003 Sebatik Tengah, Desa Bukit Harapan
            Pagi ini kami menuju sekolah selanjutnya, yakni Desa Bukit Harapan. Menumpang mobil jenazah Puskesmas sembari mengantar orang Posyandu untuk melakukan pelayanan di Desa itu. Perjalanan yang cukup jauh ke Desa Bukit Harapan, selain berbukit-bukit disana juga, makin tinggi sinyal makin hilang. Kami sampai sekolah itu.. sekolah yang berbahan dasar kayu Ulin berdiri kokoh namun terlihat tak segar. Gedung yang memanjang. Dibawahnya adalah tanah gambut yang mulai becek. Kami jalan kaki melewati jembatan yang tidak bisa dilewati mobil. Mobil puskesmas lanjut menuju Posyandu sedangkan kami memasuki kawasan tanpa sinyal ini. Kami membawa seplastik obat filariasis yang sudah di puyer. Sudah paket untuk langsung minum tiap bungkusnya. Sedangkan Kak Jumadi membawa botol air Galon di sisinya. Kemudian Ceha membawa gelas dan perlengkapan minum obat lainnya.
dok. pribadi. Hap! bismillah :)
            Namanya sekolah dasar, sama saja. Sama-sama dipenuhi anak-anak sekolah dengan berbagai keunikannya. Jadi kami memasuki tiap kelas. Di SD ini anak sekolahnya tidak terlalu banyak. Namun semangatnya banyaaak. Kami tidak kesulitan seperti di SD-SD sebelumnya yang harus melakukan puyer dulu baru diberi minum kepada anak. Kini semua sudah paket jadi tinggal membuka pembungkus, menuangkan kedalam sendok, lalu memberikan air secukupnya dan siap diminumkan ke anak.  Jadi tinggal di suap ke anal-anak, dan mereka siap membuka mulut dan menelan obat Filariasis. Alhamdulillah pekerjaan menjadi lebih cepat dan tak memakan waktu. Hal ini berlanjut seterusnya hingga kelas 6 SD. Obat filariasis akhirnya selesai diberikan kepada anak perbatasan. Semoga semua anak dan warga aman dari ancaman penyakit FILARIASIS. Aamiin : )

Desa Aji Kuning, Sebatik Tengah, Kalimantan Utara
Oktober 2016