Rabu, 17 Februari 2016

Arisannya Perantau




Sebatik Tengah, Desa Aji Kuning
Kalimantan Utara

            Arisan adalah suatu hal yang secara turun temurun terjadi.. di lakukan orang Indonesia utamanya. Dahulu arisan merupakan suatu ajang menabung sekaligus silaturahim. Karena lewat arisan.. kita akan berkunjung kerumah orang yang mendapat arisan, lalu makan bersama, bincang bersama dan mendapatkan keakraban. Melalui arisan juga kita bisa memiliki banyak teman. Kini arisan gak hanya diminati ibu-ibu. Namun bapak-bapak.. orang yang sudah tua hingga muda. Kini malah banyak arisan dengan berbagai jenis.. mulai daeri arisan barang perabotan, arisan daging, arisan berlian sampai yang bahaya.. arisan berondong. Wuh.. jangan yaah. Makin kesini sosialita yang hingar bingar makin mucul dan naik kepermukaan.
            Oke, malam ini aku gak akan bahas tentang arisan yang aneh-aneh. Karena sejak aku kecil hingga sekarang, aku hanya pernah mengikuti arisan uang. Dahulu.. saat SD, aku dan teman sekolah buka arisan... namanya arisan satu hari seribu. Jaman dulu kan, seribu itu lumayan... bisa beli minuman ringan plus siomay. Yang paling seru saat arisan adalah kocokan. Domana kita bersemangat menyerahkan uang.. lalu dagdigdug menanti nama yang keluar dari kocokan itu. dan.. wah bukan nama kita!hahah yaudah sabar tunggu minggu selanjutnya. Lalu dihari itu, kocokan lagi.. namaku yang keluar.. wih bahagianya seorang Rinta yang berusia 9 tahun kala itu.. pegang uang seribuan banyak..segepok! ialah ada 30 orang yang ikut.. dan dikocok tiap satu minggu. Hehe. Akhirnya uang itu pergi begitu saja dari tangan kecil itu.. entah beli ini itu.. dan tak dirasa..hiks..
from google picture

            Kini 22 tahun sudah usiaku.. Arisan kami lakukan dengan lingkungan puskesmas. Pegawai Puskesmas.. sudah memiliki gaji, dan memikirkan banyak hal yang memang harus menabung dengan berbagai cara.. menanggulang sifat boros. Akhirnya berani... ayo arisan satu bulan satu juta. Hmm lumayan ada 13 orang nih.. hehe. Aku ikut.. kami ikut. Ya tim Nusantara Sehat ikut arisan semua, kami butuh nabung... tapi agak ragu dengan kemampuan diri menabung... huhuhu. Semoga bisa jadi jembatani menanggulangi sifat boros yah.. aamiin.
            “Hei Rinta! Ayo ikut arisanku! 5 juta perbulan..” Ucap Kak Ading.
            “Besarnya.. untuk apa kak?” tanyaku.
            “Untuk tebus mahar mu..hahaha.” ucap Kak Ading bercanda sambil tertawa.
            =____=

ditulis pada 13 januari 2016

Jumat, 12 Februari 2016

Mahar Untuk Gadis Daerah




 
dok.google.co.id.. salah satu bentuk mahar yang unik
            Tim Nusantara Sehat yang berada di wilayah Desa Aji Kuning, untuk Puskesmas Aji Kuning terdiri dari lima orang. Dengan berbagai latar belakang, suku, budaya dan kebiasaan. Mulai dari profesi Perawat, bidan, Analis, kesehatan lingkungan, serta kesehatan masyarakat. kami ada yang berasal dari NTT (2 orang), Lampung, Jawa, serta Jakarta. Sudah satu bulan lebih 1 hari kami tugas disini, kami sudah mengenal banyak pegawai pueskesmas, banyak mengobrol dan belajar. Tak terkecuali bercanda.. kadang dalam obrolan, kita mampu mengenal banyak hal, mengetahui lebih banyak dan mendapatkan pengetahuan baru.
            Tadi siang, saat pasien di UGD belum ada, kami mengobrol dengan Pak Kahar salah satu perawat yang cukup senior di Puskesmas Aji Kuning. Beliau senang mengobrol dan bercanda. Termasuk menjodoh-jodohkan aku sama Kak Ading. Wuuh. Jadi Pak Kahar tanya sama teman kami yang berasal dari NTT. “Berapa biasanya, mahar kalau ada orang mau lamar kau?” tanya Pak Kahar dengan logat khas Bugisnya.
            “Kalau di NTT tu cukup mahal Pak. Biasanya paling murah tuh 100 juta. Bisa lebih.. belum lagi seserahannya..”
            “Mak! Mahalnya.. “ Ucap Pak Kahar diikuti perawat lain yang sedang duduk disana. “Aku bayangkan.. kalau aku cinta sama kau, aku lamar lah kau dengan gadaikan SK PNS ku 10 tahun.. seratus juta.. kita bahagia 3 bulan aja, selebihnya kita berhutang...hahaha” ungkap Pak Kahar sambil ngakan dengan suara khas.
            “Ah ku kira orang bugis aja’ yang mahalnya itu mahar. Ternyata NTT lebih mahal. Kalau orang Bugis tu paling murah 20 juta.. belum lagi seserahannya.. ada juga yang seserahannya lemari empat pintu dan harus dipenuh barang-barang kebutuhan, mana harus bermerek pula.. kalau sarung tu.. harus sarung merk gajah duduk.. mahal kan tu..” Ucap Kak Mhia menambahi.
            Pak Kahar melihatku yang memoerhatikan mereka dengan seksama sambil tersenyum-senyum geli. Hahaha gimana gak senyum geli, orang Bugis itu ya.. logatnya unik banget.. jadi ngomong hal yang lucu dikit.. humornya bikin ngakak hehehe.
            “Hei kau Rinta.. gimana kah kalau orang Lampung? Berapakah maharnya?” tanya Pak Kahar.
            “Kalau aku sih.. hati yang besar, iman yang kuat dan bertanggungjawab itu udah cukup, Pak...”
            BUKAN!hahaha aku gak jawab itu ke Pak Kahar. Bisa habis diketawain aku, haha. Walaupun sebenarnya itulah keinginan hati yak.
            “Hmm kalau Lampung.. gak ada ketentuan sih pak.. yang jelas kesepakatan keluarga besar aja Pak..”
            “Jadi kau 5 juta aja sudah bisa dong? Hai pergilah kau Ading, lamar Rinta, 5 Juta maharnya..hahaha” ucap Pak Kahar bercanda.
            “Wiiih, ndaklah Pak.. keluargaku yang tak terima Pak..hahaha”, jawabku sambil bercanda.
            Lalu seorang pegawai puskesmas mengatakan kalau di Jawa mahar itu tidak dipermasalahkan. Yang penting ke KUA, syah. Lalu melakukan pesta pernikahan sendiri-sendiri, tanggungjawab orangtua.. lalu pisah dengan orangtua dan hidup mandiri. “Nah.. sebenarnya itu yang bagusnya ya Pak.. itu sunahnya.. hehe..” ucapku.
dok.google.co.id.. salah satu bentuk mahar masa kini..

            “Tapi ya cam mana.. orangtua tu pasti tekankan tradisi.. mau mahar besar ujungnya habis juga’ untuk biaya pesta..” ucap Kak Mhia menambahkan.
            Well.. pembicaraan tentang mahar yang kami lakukan, InsyaAllah bukanlah obrolan kosong. Karena disela bercanda itu ada pengetahuan yang dapat aku cerna.  Bahwa, tiap daerah memiliki banyak cara untuk mewujudkan hari bahagia, hari pernikahan, hari bersatunya separuh Dien, hari yang menggetarkan langit, hari yang terdengar suara seorang perkasa calon pemimpin rumah tangga dalam ijab. Hari yang sakral.
            Namun dalam islam.. untuk seorang calon istri sebaik-baiknya mahar adalah yang tidak memberatkan si suami. Sedangkan untuk  si calon suami sebaik-baiknya mahar adalah hal yang terbaik yang ia miliki dan ia sanggupi. Karena prosesi sekali setahun itu adalah sakral.. hal yang lebih penting adalah.. ketika kamu dan aku menjadi “kita”.. lalu keluarga aku dan kamu menjadi “satu”, dan bahagia dalam sakinnah mawaddah warrahmah. Aamiin.   Selamat berbahagia bagi yang baru menikaah :D

Ditulis pada: 13 Januari 2016
Di malam hari, ruang tengah rumah dinas sederhana.
Di Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan-Kalimantan Utara. Indonesia.

Jumat, 05 Februari 2016

Merujuk si Sakit sampai Malaysia




 
dok.pribadi.. perjalanan menuju Tawau, malaysia
Pagi ini aku agak kaget. Gak biasanya. Kemarin pasien perawatan hanya tinggal 2 orang. Sekarang.. di meja dokter udah ada 5 status pasien berderet. “Wah.. banyak pasien kah kak?” tanyaku. “Iyadek, kemarin borong ni pasien datang ramai..” jawab kak Nur, salah satu bidan di Puskesmas tempatku bertugas.
            Puskesmas Aji Kuning, Kecamatan  Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara ini memang memiliki UGD 24 jam dan ruang rawat inap, serta ruang rawat bagi nifas. Tempat tidur ada 6 dalam 2 ruangan. sedangkan ruang nifas bagi ibu baru hamil adalah sebelah ruang VK (ruang bersalin). Salah satu dari 5 pasien tersebut berstatus cukup urgent, “Harus di rujuk..” kata dr.Eka.
            Pasien tersebut mengalami kejang berulang-ulang.. setiap kejang bisa sampai 10 menit. Sebelumnya sebelum pukul 7 pasien mengalami kejang, lalu dokter visit pukul 8, kondisi pasien bisa ikut perintah, namun tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan. Pandangannya masi sering kosong. Pasien berusia 19 tahun. Ini bukan kejang deman seperti anak-anak yah, hehe. Dan ibu pasien malah mengatakan, sejak kecil si pasien tidak pernah sama-sekali kejang. “Pasien harus dirujuk, saya curiganya, Makcik.. pasien ini kejang karena kurang oksigen dalam otak, atau karena demamnya, takutnya makcik.. ini jadi radang otak kalau terus-terusan kejang. Harus cepat dirujuk Makcik.. bahaya kalau kita lambat merujuk..” tukas dr.Eka.
            Ibu pasien terlihat sedih, “Hm yelah..yelah.. kita telpon dulu ayahnya. Mana tau mau kita rujuk ke Tawau kan..” ucap si ibu pasien. Aku langsung lirik Kak Kahar.. beliau senyum, seakan tau apa yang aku pikirkan.. merujuk ke Tawau Hospital.. Ya. Aku memang penasaran ingin merujuk kesana. Ingin tau banyak tentang rumah sakit yang ada di Malaysia. Kapan lagi kan, bantu pasien sambil lihat negara tetangga.. tanpa pasport lagi, hehe. Karena kami ada surat jalan, bahwa akan merujuk ke Tawau.
            Keluarga pasien wilayah Sebatik Tengah, cukup jarang ada yang pilih rujuk ke Tawau. Selain karena alasan dana. Padahal, rujuk ke Tawau lebih dekat daripada rujuk ke rumah sakit daerah kabupaten.. ke Nunukan. Sama.. sama-sama pakai speedboat menuju kesana. Bedanya.. bagi pasien yang pilih rujuk ke Tawau Hospital.. mereka pasti memiliki saudara di Tawau, yang memiliki kartu ID khusus untuk masyarakat Malaysia, jadi harga lebih murah. Ohya, di Tawau gak berlaku BPJS yah.hehe. kalau pasien yang pilih rujuk ke RSUD Nunukan adalah pasien yang memiliki kartu jaminan atau BPJS.
            “Siap-siaplah Rinta.. kau ganti pakai seragam putih.. kau berangkat sama Sarinah. Kau jago kan Bahasa Inggris? Di Hospital orang pakai bahasa Inggris semua..” ucap Kak Kahar.
            “Asik. Oke kak. Kak Sarinah ndak ganti seragam putih juga?” tanyaku ke Kak Sarinah.
            “Ndaklah... kau aja yang pakai seraga putih.. nanti kau yang masuk ruangan, overan sama nurse disana..” ucap Kak Kahar dengan gaya khasnya.
            “Kak.. aku kan anak baru.. teganyaa..” ucapku lalu pulang kerumah untuk salin pakai seragam putih-putih. rumah dinas tim nusantara sehat hanya berjarak tiga rumah saja. Jalan kaki 3 menit, sudah sampai kerumah.
***
            Kami sudah sampai di Somel. Disini salah satu tempat pemberhentian kapal menuju Tawau. Selama perjalanan darat dengan ambulance puskesmas, cukup buat heboh warga sekitar. Sirene di hidupkan Kak Kahar. Kak Kahar si penanggung jawab rawat inap UGD ini akhirnya mau jadi driver sementara, karena pasiennya urgent. Tadi aja pasien kejang lagi hampir 10  menit. Sirena ambulance di hidupkan kak Kahar. Semua anak-anak, orang tua yang rumahnya dipinggir jalan,keluar rumah. Bayangkan, keluar rumah.. hanya untuk melihat mobil yang sirenenya menggelegar itu. hahaha
dok.pribadi. Di Malaysia juga banyak 'Teksi'


            Oke kembali. Disana speedboat sudah menunggu. Speedboat memang sudah dipesan oleh Kak Kahar via telpon. Wilayah Somel adalah wilayah paling perbatasan Indonesia-Malaysia. Malah ada ‘wisata perbatasan somel’ yang merupakan wisata ‘tandapetik’ disana, maksudnya?ya ituuu wisata ‘tandapetik’.hehe. warga, terutama anak-anak ramai membututi kami dari belakang. Mereka kepo banget, sama pasien yang ada di atas tandu. Yak, pasien lemah.  Kali ini boatnya cukup lumayan besar daripada speedboat ke Nunukan kala itu.
            Untuk harga speedboat dari Somel ke Tawau pulang-pergi adalah sebesar 100 Ringgit Malaysia (RM) atau sebesar Rp.350 ribu.  Keluarga pasien yang ikut ke Tawau ada dua orang, yakni ayah dan ibu pasien. Sedangkan dari Puskesmas ada 3 orang, aku, kak Sarinah (perawat Pkm), dan Yolla (salah satu tim NS ku, profesi tenaga kesehatan Lingkungan), iya pingin tau merujuk, hehe.
            Keadaan laut cukup tenang. Eh, kami di samudera loh. Dan memang ombak menuju Tawau terkenal kencang.  Speedboat berlayar cepat, malah dalam kemiringan 45 derajat. Bayangkan, lalu ada ombak mengempas, speedboat terbanting, terbanting lagi, sampai pasien pun badannya ikut terbanting. Sesekali Kak Sarina teriak agar nahkoda tak terlalu kencang, kasien pasien. Namun namanya Speedboat memang selalu kencang.

            Sekitar 20 menit kami berada di tengah laut, terombang ambing, dihempas, di banting ombak. Cukup pusing kepalaku. Namun harus menegakkan kepala, demi sampainya pasien di Tawau Hospital. Boat kami tak langsung sampai di dermaga. Kami di over lagi.. karena perbatasan kapal Indonesia-Malaysia. Kami dijemput oleh rekanan nahkoda itu..  ada perahu milik warga Malaysia menjemput kami. “Antar orang sakit!” teriak pengemudi speedboat kami. “Yelah.. naik.. naik.. “ ucap pengemudi perahu pada kami dengan logat khas. Hanya 5 menit, kami sampai di pelabuhan. Yak, pelabuhan di Tawau, negara Malaysia.
            Sampai disana, keluarga pasien yang ada di Tawau sudah menunggu. Kami langsung gegas menuju Tawau Hospital. Aku memanfaatkan kesempatan.. melihat kanan-kiri, melihat suasana negara tetangga, mumpung ada di Malaysia hehe. Kadang aku senyum sendiri melihat bahasa yang digunakan di Malaysia, unik bahasanya. Ada tulisan banner iklan “Internet untuk Kenikmatan, Jom Berinspirasi”, ada juga tulisan iklan.. “Dahagakan Cabaran!Koleksi Tin Bola Sepak..” dan lain-lain. Bahasa Indonesia dan Malaysia memiliki perbedaan tatanan, dan itu yang buat unik.
dok.pribadi. foto setelah pasien di overkan ke nurse hospital. di depan Jabatan Kecemasan (Instalasi Gawat Darurat)

            Sampailah kami di Tawau Hospital. Waaah, cukup luas, besar, parkirannnya luas.. terlihat tulisan.. “Jabatan Kecemasan”, eh apaan tuh? Disanalah kami parkir dan menurunkan pasien. Yak, itu adalah ruang IGD nya Tawau Hospital. Jabatan Kecemasan itu kalau dalam bahasa Indonesia adalah Instalasi Gawat Darurat. Kami disambut dengan perawat laki-laki berbadan besar, wajah ke indiaan, dengan seragam merah maroon, khas IGD. Kami ditanya surat tugasnya, kak Sarinah memberikan suratnya, lalu pasien dibawa ke dalam ‘Jabatan Kecemasan’. Pasien dimasukkan ke ruangan “Zon Kuning’. Yak, ruangan yang memiliki pintu warna kuning, dan pintu hanya bisa dibuka dengan sensor ID card tenaga medis yang ada di pinggir pintu, atau kode Hospital yang hanya diketahui tenaga medis sana. Boleh juga, menurutku hal ini efektif untuk mengurangi mondar-mandirnya keluarga pasien.
dok.pribadi. pulaaang naik perahu... kemudian lanjut speedboat :")

            Sayangnya Igd rapi dan tertutup itu sudah ada peringatan besar-besar untuk tak boleh memotret atau memvidiokan. Padahal pasien sama sekali tak terlihat. Memasuki jabatan kecemasan, membuat fikiranku melayang.. membandingkan IGD RS tempatku bekerja dulu, wuuh bedanyaaa. Memasuki ruang IGD nya Malaysia ini.. ah pokoknya kelas internasional deh. Bersih.. tertata. Di RS tempatku sebelumnya, ruang triase hanyalah papan anam diatas. Tapi tak ada klasifikasi tempat zona hijau. Merah, kuning, atau hitam kah. Kalau di hospital ini langsung ada ruangan tiap zonanya.. zona merah masuk ke kanan, dan tertutup dengan pintu warna merah. Zona kuning ada pas di depan pintu masuk IGD, dan zona hijau ada di kiri ruangan. disana juga banyak pasien yang mengantri untuk pemeriksaan (poli), pasien-pasien yang mengantri ini masuk zona hijau. Disana ada dokter, perawat yang memeriksa.
            Nah jika telah diperiksa di zona hijau, lalu pasien dinyatakan harus di rawat, pasien ini akan segera pindah ke zona kuning, disana pasien akan diberi perawatan selayaknya di zona itu. semua tertata rapi.. ruang administrasi di sana,  ruang perawat disini. Ada lorongnya.. aku juga melihat cleaning service hospital ini.. waah APD nya oke deh. Mereka pakai jubah plastik, sepatu, handscoon. Pikir kalau di RS tempatku dulu.. wah sama sekali gak pakai APD. Padahal tugas sebagai cleaning service cukup beresiko. Ohya, ternyata.. pasien umum orang Malaysia, ketika akan dirawat.. harus punya dana dulu sebesar 600-800 ringgit. Baru boleh masuk berobat. Sedangkan orang luar Malaysia, seperti orang Indonesia jika ingin dirawat, pasien harus memiliku uang sebesar 1100-1200 Ringgit Malaysia. 1 ringgit: Rp. 3500). Namun jika warga Malaysia punya kartu jaminan, harganya bisa sangat murah untuk mendapatkan pengobatan.
            Kami selesai antar pasien. Keluarga pasien yang tadi jemput kami di pelabuhan, mengantar kami kembali. Kami minta diturunkan di sebuah toko yang dekat dengan pelabuhan. Disana harga buah sangat murah, maksudnya lebih murah dari harga jual di sebatik. Selain itu makanan seperti sosis nugget, disini juga lebuh murah, beruntung aku dan Yolla punya persediaan uang ringgit. Hehe. Kami beli ini itu sesuai kebutuhan kami, maklum.. kan sudah punya kulkas, hehe.
            Kami di pelabuhan. Naik perahu si pakcik yang jemput kami tadi. Lalu ia mengantar kami ke perbatasan itu, tempat perahu dan speedboat orang Indoensua bersandar. Kami melihat.. wah mana ini.. speedboat kami tadi gak ada. mapah ada yang bilang sudah pulang. Kak Sarinah ikut kesal, karena uang ongkos kapal sudah di berikan ke nahkoda speedboat, seharusnya uang ongkos diberikan saat sudah kembali lagi ke Sebatik. Ini resikonya,, huaa.. gimana iniii. Akhirnya kami naik saja ke kapal besar itu. sambil menunggu. Kami menghubungi Kak Kahar. Namun kartu kami semua roaming. Aku coba sms kak Kahar, dan bilang.. telpon balik, karena speedboatnya  meninggalkan kami. sms aku kirim.. lalu cek pulsa. Taraaaaa! Pulsa ku hilang 6 ribu brooo :”). Dan pulsa tinggal seribu. Lalu Kak Kahar telpon kami, dan aku ga bisa angkat. Pasti mati lagi telponnya. Iyalah.. pulasaku kan tinggal seribu, mana bisa di sedot sama roaming. Haha.
dok.pribadi. disini temoat persinggahan kapal dari Indonesia.. kemudian kami dijemput oleh perahu Malaysia disni. pulangnya pun begitu. Saat kami di tinggal speedboat pun kami bertahan disni setengah jam :")

            Tak lama, ada orang yang teriak..”Ada operasi!” lalu semua berlarian, dan kapal besar itu  jadi hening. Kontan kami ikut suasana dong. Ikutan nyumput dan berpikir.. gimana kalau ketangkep dan dituduh selundupan? Huaaa. Eh tapi kami punya surat jalan, surat inilah yang akan ditunjukan ke polis Malaysia itu.
            Setengah jam kemudian speedboat kami datang. kami kecewa, boatnya gak setia. buktinya si nahkoda ambil klien baru. Penumpang yang akan pindah rumah mungkin. karena barangnya itu banyaaak banget. Kami bertiga gak cukup ada disana. Akhirnya ada satu speed temannya speed kami yang berkhianat itu, hehe. Kami naik ke speedboatnya.. dan berada di bawah matahari sore yang terik. Selama 20 menit kami ditengah laut. Terombang ambing dan di banting ombak. Lalu kami sampai kembali ke Sebatik Utara itu.. wialayah Somel. Alhamdulillah. Terlihat kak Kahar dengan mobil putih bak belakang. Beliau pakai baju biru lengan pendek dan celana pendek, keringatan, bukan karena olahraga, tapi karena angkatin barang ke bak mobilnya. Banyak banget barang ber kardus dan di dalam karung, ia menatanya, mengikatnya sampai keringatnya bercucuran. “Inilah pekerjaanku kalau sore.. mana pernah ku tidur siang. Tapi perut gendut juga.. nah liat tangan ini, mana bisa halus.. angkat beban terus..” ucap Kak Kahar santai dengan gaya khasnya.

dok.pribadi. belanjaaa, mumpung di Malaysia. beli kebutuhan dapur, mumpung murah.. hehe siap siap Ringgit! :)

            Kadang salut juga sama Kak Kahar, tetap kerja banting tulang, padahal ia sudah PNS disini... memang gaji sebagai PNS gak cukup untuk biaya kehidupan keluarga, istri, sekolah anak-anak, dll. Maka gak heran ada yang bilang sebagai PNS gaji selalu pas kurangnya. Dan banyak kejadian bahwa walaupun PNS, rata-rata memiliki pekerjaan sampingan, ntah berdagang atau apapun. Well bekerjalah, carilah hasil, keberkahan dan rezeki sebanyaknya di bumi Allah, secara halal dan bahagia. Kak Sarinah diantar sampai depan rumah, karena tak jauh dari pelabuhan rumahnya. Sedangkan kami diantar sampai persimpanagan puskesmas. “Jalan sikit yah.. ndak enaklah aku ke Puskesmas sambil bawa barang banyak ni.. ini mau diantar ke desa Sei Pancang.. mau diantar ke yang punya..” ucap Kak Kahar, kami turun. Jalan sedikit gak masalah kok, dekeet. “Makasih Kak Kahar!” ucap aku dan Yolla, sambil bawa barang belanjaan. “Eh kita ini habis shopping dari luar negeri yah?” tanyaku sama Yolla sambil tertawa :) 

Well, kalo bukan melalui Nusantara Sehat, mungkin aku gak bakal dapat kesempatan begini seru. merujuk pasien sampai ke negeri seberang :)

Puskesmas Aji Kuning, 23 Januari 2016
Sebatik Tengah, Kalimantan Utara –Indonesia-